Helsinki (ANTARA) - Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mendesak Spanyol untuk bertindak cepat guna "mengendalikan situasi" masuknya sejumlah besar migran dari Maroko.
Dia menekankan bahwa Spanyol harus memenuhi kewajibannya di bawah kerangka kerja sama Schengen.
"Jika berbagai perkembangan yang terjadi berisiko memengaruhi keamanan atau situasi migrasi Swedia, pemerintah siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga ketertiban dan kendali," ungkap Kristersson kepada Kantor Berita Swedia, TT.
Menteri Imigrasi Swedia Johan Forssell pada Jumat menyerukan untuk pelaksanaan satu pertemuan luar biasa dengan mitra setaranya dari negara-negara Nordik.
Dia menyebutkan Swedia siap mendukung Spanyol melalui Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex) jika Madrid mengajukan permohonan bantuan.
Forssell juga menyerukan peningkatan tekanan terhadap negara-negara tetangga guna memperkuat pengawasan perbatasan dan mencegah pergerakan sekunder para migran di dalam wilayah Uni Eropa (EU).
Dia mengatakan Spanyol harus bertanggung jawab untuk memulihkan kendali atas perbatasan luar Uni Eropa. "Gambar-gambar yang beredar sangat mengkhawatirkan. Situasinya tampak seperti kekacauan," ujarnya.
Perdana Menteri Sementara sekaligus Menteri Keuangan Finlandia Riikka Purra menuturkan langkah-langkah di tingkat EU diperlukan untuk membantu Spanyol mengendalikan situasi sesuai dengan aturan migrasi Uni Eropa.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Purra mempertanyakan perihal pelajaran yang dapat dipetik dari krisis pengungsi pada 2015 silam.
Dia menegaskan bahwa Finlandia harus melindungi keamanannya, seraya menambahkan pengawasan perbatasan internal dapat segera diberlakukan kembali jika diperlukan.
Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen juga mengatakan di media sosial X bahwa situasi di Ceuta harus dikendalikan. "Pemulangan bagi mereka yang masuk tanpa izin harus segera dilakukan," desaknya.
Otoritas Spanyol memperkirakan bahwa sekitar 50.000 migran memasuki Kota Ceuta dari negara tetangga, Maroko, selama dua hari terakhir, menandai salah satu krisis migrasi ilegal terbesar yang pernah tercatat di perbatasan wilayah kantong tersebut.
Jumlah korban tewas di antara mereka yang berusaha mencapai Ceuta melalui jalur laut telah bertambah menjadi sedikitnya 57 orang per Jumat.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































