Jakarta (ANTARA) - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 02 Jakarta membekali keterampilan siswa disabilitas agar siap bekerja melalui program vokasi yang menghadirkan sembilan pelatihan keterampilan.
"Kita punya sembilan keterampilan. Itu tergantung anaknya mau pilih apa. Ada yang dari orang tuanya dan ada yang gurunya menempatkan, karena kita melihat kemampuannya," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SLBN 02 Jakarta Dewi Januarti saat ditemui di SLBN 02, Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan pelatihan vokasi itu meliputi batik, tata boga, sablon, perbengkelan motor, suvenir, tata busana, tata graha, TIK, dan hortikultura.
Pelatihan tersebut dijadwalkan bagi siswa SMP pada Selasa dan Kamis, sedangkan bagi siswa SMA pada Senin, Rabu, dan Jumat.
"Pelatihnya dari guru sendiri. Guru SLB harus serba bisa. Ngajar, iya, keterampilan, iya," ujar Dewi.
Dari pelatihan tersebut, diharapkan para siswa memiliki keterampilan mandiri sehingga siap bekerja di masa depan.
Lulusan dari sekolah tersebut, kata Dewi, banyak yang bekerja di hotel, supermarket, serta penjahitan seragam guru.
Baca juga: Dari barat ke selatan, perjuangan disabilitas mencari peluang kerja
Sementara itu, guru seni SLBN 02 Jakarta Astri Pebriyanti menyebutkan tantangan dalam membimbing anak disabilitas, yakni komunikasi dan suasana hati (mood) mereka.
"Terutama, komunikasi dan menjaga mood mereka. Membatik itu capek, dari jam 07.30 sampai 14.00 WIB. Tantangannya, bagaimana supaya mereka tidak bosan dan tidak capek," tutur Astri.
Dia mengatakan proses pembuatan batik tulis terbilang lama, bahkan bisa sampai tiga bulan apabila dikerjakan rutin seminggu tiga kali.
Proses membatik yang diajarkan, yakni gambar terlebih dahulu di kertas, pindahkan ke kertas roti, lalu pindahkan ke kain. Setelah itu, dicanting, diwarnai (tiga sampai empat kali pewarnaan), ditembok (tutup lagi pakai lilin), dicuci, dikeringkan, lalu diwarnai kembali.
Baca juga: DKI jamin disabilitas dan korban PHK miliki kesempatan kerja
Batik hasil karya siswa SLBN 02 Jakarta itu pun telah dipamerkan dan dijual dengan harga mulai dari Rp200.000.
"Paling murah Rp200.000 untuk batik ciprat. Kalau batik tulis antara Rp200.000 sampai Rp400.000, karena memang pengerjaannya lama dan murni buatan anak-anak sendiri," ungkap Astri.
Dengan demikian, sambung dia, besar harapan guru agar para siswa dapat mengimplementasikan hasil belajar mereka di dunia kerja dan semakin banyak industri yang terbuka untuk menerima mereka.
"Saya juga berharap ada industri yang mau merekrut anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk bekerja di tempat mereka," imbuh Astri.
SLB Negeri 02 Jakarta membimbing sebanyak 230 siswa penyandang disabilitas. Mereka dilatih untuk memiliki kemampuan agar dapat hidup mandiri di masa mendatang.
Baca juga: Jaksel tingkatkan layanan ruang laktasi dan fasilitas disabilitas
Baca juga: DKI susun langkah tingkatkan prestasi olahraga disabilitas
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































