Depok, Jawa Barat (ANTARA) - Pukul 04.00 WIB, ketika sebagian besar anak seusia mereka masih terlelap, 76 calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional sudah harus beranjak dari tempat tidur.
Kamar dirapikan, ibadah ditunaikan. Setelah sarapan, mereka bersiap menghadapi latihan yang akan berlangsung berjam-jam. Tidak ada telepon seluler untuk mengusir sepi, tidak ada kesempatan keluar asrama untuk sekadar mencari suasana berbeda.
Yang ada adalah lapangan, barisan, aba-aba, dan teman-teman baru yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Lapangan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, menjadi tempat mereka ditempa sejak 14 Juli lalu.
Lapangan itu disulap menyerupai denah lapangan Istana Merdeka, Jakarta, tempat duplikat bendera pusaka akan dikibarkan pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, untuk sampai ke sana, perjalanan siswa dan siswi yang rata-rata duduk di kelas 11 itu sudah dimulai jauh sebelum 14 Juli.
Proses seleksi dilakukan secara bertahap, dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga verifikasi di tingkat pusat. Setiap tahap menyisakan kandidat yang semakin sedikit, hingga akhirnya 76 anak terpilih untuk mewakili daerah masing-masing ke tingkat nasional.
Baca juga: Pengukuhan Paskibraka di Istana dijadwalkan 15 Agustus
Membangun kekompakan
Johanes Matius Paulus Rumsayor, siswa kelas 11 SMA Negeri 1 Sentani, Papua memulai perjalanannya dari seleksi Paskibra di sekolah.
Dia pernah bertugas sebagai Paskibra sekolah pada 2025. Setahun kemudian, kesempatan yang lebih besar datang. Johanes mengikuti seleksi tingkat kabupaten, lolos ke provinsi, kemudian terpilih untuk mengikuti tahap verifikasi di Jakarta.
Setelah menunggu selama dua hari, namanya akhirnya dipanggil sebagai salah satu siswa yang berhak mengikuti pelatihan tingkat nasional.
Kini, Johanes berada di tengah barisan para pemuda pemudi terpilih dari 38 provinsi di Indonesia.
Mereka saling bertukar kisah tentang perjuangan masing-masing. Ada yang berangkat dari seleksi di sekolah, ada pula yang harus melewati persaingan ketat di daerah sebelum akhirnya bertemu di tingkat nasional.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































