Bagaimana olahraga bisa membantu mengurangi stres?

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Stres menjadi bagian yang cukup umum dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan pekerjaan, tugas sekolah, masalah keluarga, hingga berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitar dapat membuat pikiran terasa penuh. Jika tidak dikelola dengan baik, stres juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan membuat seseorang lebih sulit beristirahat.

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengelola stres adalah berolahraga. Tidak harus selalu melakukan latihan berat atau menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, joging, atau melakukan olahraga yang disukai juga bisa menjadi pilihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa aktivitas fisik secara rutin memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Pada orang dewasa, aktivitas fisik juga dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

Baca juga: Studi: Olahraga selama tiga bulan dapat tingkatkan fungsi otak

Baca juga: Olahraga intens beberapa menit bantu cegah penyakit kronis

Lantas, bagaimana sebenarnya olahraga dapat membantu mengurangi stres?

Ketika melakukan aktivitas fisik, tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk peningkatan aktivitas sistem tubuh yang berkaitan dengan respons terhadap stres. Olahraga juga dapat memicu pelepasan zat kimia di otak yang membantu meningkatkan suasana hati. WHO menyebut aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan mood, konsentrasi, kualitas tidur, dan rasa percaya diri.

Hal ini membuat olahraga tidak hanya bermanfaat untuk kebugaran tubuh, tetapi juga dapat memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat sejenak dari berbagai tekanan.

Misalnya, setelah menjalani hari yang melelahkan, seseorang bisa berjalan kaki selama beberapa menit di sekitar rumah. Selama berjalan, perhatian dapat dialihkan sementara dari pekerjaan atau masalah yang sedang dipikirkan. Aktivitas sederhana tersebut bisa menjadi jeda sebelum kembali menjalani aktivitas berikutnya.

Olahraga juga dapat membantu mengurangi ketegangan yang sering muncul ketika seseorang mengalami stres. Stres dapat membuat seseorang merasa sulit rileks, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mengalami sakit kepala atau keluhan tubuh lainnya, bahkan mengalami gangguan tidur.

Dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin, tubuh mendapatkan kesempatan untuk bergerak setelah cukup lama berada dalam posisi diam, terutama bagi orang yang sehari-hari banyak duduk di depan komputer atau melakukan aktivitas yang minim gerak.

Baca juga: Tak perlu olahraga berat, jalan kaki cukup guna jaga kebugaran

Manfaat lainnya berkaitan dengan kualitas tidur. Ketika sedang stres, sebagian orang menjadi lebih sulit tidur atau tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Padahal, tidur yang baik penting untuk membantu tubuh dan pikiran memulihkan diri.

WHO memasukkan olahraga secara teratur sebagai salah satu cara yang dapat membantu mengelola stres. Aktivitas fisik pada siang hari juga dapat membantu seseorang lebih mudah tidur pada malam hari.

Meski begitu, olahraga tidak harus selalu dilakukan dengan intensitas tinggi. Bagi seseorang yang belum terbiasa berolahraga, memaksakan latihan berat justru dapat membuat tubuh terlalu lelah dan akhirnya membuat aktivitas fisik terasa seperti beban.

Berjalan kaki, melakukan peregangan, bersepeda santai, bermain olahraga bersama teman, atau melakukan aktivitas fisik yang disukai sudah bisa menjadi langkah awal. WHO menekankan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah berapa pun lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Agar manfaatnya lebih terasa, olahraga sebaiknya dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Untuk orang dewasa, WHO merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang dalam satu minggu atau 75 menit aktivitas aerobik intensitas tinggi, ditambah aktivitas penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.

Namun, angka tersebut tidak harus menjadi target pertama bagi orang yang baru mulai berolahraga. Kebiasaan dapat dibangun secara bertahap, misalnya dengan berjalan kaki selama 15–30 menit beberapa kali dalam seminggu, kemudian meningkatkan durasi atau intensitas sesuai kemampuan.

Memilih olahraga yang disukai juga bisa membuat rutinitas lebih mudah dipertahankan. Jika tidak menyukai lari, tidak perlu memaksakan diri untuk berlari. Anda bisa memilih bersepeda, berenang, bermain bulu tangkis, berjalan kaki, atau aktivitas lain yang membuat tubuh bergerak.

Pada akhirnya, olahraga bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi stres. Mengatur waktu istirahat, tidur cukup, menjaga pola makan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu.

Jika stres berlangsung terus-menerus, terasa semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya mengandalkan olahraga. Mencari bantuan dari tenaga kesehatan atau orang yang dipercaya juga merupakan langkah yang tepat.

Baca juga: 6 manfaat lari di siang hari untuk kesehatan, tak sekadar bakar kalori

Baca juga: Dokter ungkap kebiasaan nomor satu agar buang air besar lebih lancar

Baca juga: Waktu hingga manfaat olahraga untuk ibu hamil

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |