Rupiah melemah dipengaruhi potensi kuat kenaikan suku bunga Fed

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, bergerak melemah 36 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.730 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi kuat kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh global, (yakni) antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan hari ini waktu AS dimana 100 persen survei pelaku pasar memperkirakan 25 bps (basis points) kenaikan menjadi 4 persen didorong oleh harga minyak yg masih di level 105 dolar AS per barel,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Kantor Berita China Xinhua, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh Federal Open Market Committee (FOMC), yang memulai pertemuan kebijakan bulan September pada hari Selasa (15/9).

Menyusul data inflasi yang tinggi selama berbulan-bulan, para pelaku pasar sangat meyakini bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga saat pertemuan tersebut berakhir pada hari Rabu (16/9).

Melihat sentimen domestik, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan depan dihadapkan pada tekanan eksternal, sikap The Fed yang hawkish, tren kenaikan inflasi, hingga ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di kisaran 70 dolar AS per barel.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar di kisaran Rp17.690 - Rp17.750 per dolar AS.

Baca juga: Trump ancam hentikan perdagangan jika The Fed tak pangkas suku bunga

Baca juga: Anggota Dewan BOJ Sebut BOJ akan terus naikkan suku bunga

Baca juga: OJK terus kaji batas maksimum suku bunga industri pergadaian

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |