Riuh arena domba dan asa dari peternakan rakyat

1 month ago 29

Sumedang (ANTARA) - Di banyak daerah, peternakan rakyat kerap dipandang sebagai sektor pinggiran. Ia hadir di halaman belakang rumah, di kandang-kandang sederhana, dan dalam rutinitas yang jarang mendapatkan sorotan.

Namun di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, domba dan kambing bukan sekadar hewan ternak. Mereka telah lama menjadi bagian dari identitas budaya, ruang silaturahim, sekaligus sumber penghidupan yang diwariskan turun-temurun.

Denyut itu kembali terasa pada Minggu (21/12) pagi, saat kegiatan ketangkasan domba dan kambing digelar selama dua hari. Sorak-sorai menggema dari arena yang berada di balik rimbunnya perbukitan Rancakalong, menyambut setiap langkah lincah hewan-hewan yang bertanding.

Riuh arena bukan sekadar penanda kompetisi. Di baliknya, tersimpan makna yang lebih dalam pada sebuah perhelatan yang tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan tentang bagaimana peternakan rakyat dapat menjadi penggerak sosial dan ekonomi daerah.

Jajang Suryana (43), pegiat domba sekaligus Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Sumedang, menuturkan bahwa ketangkasan domba dan kambing selama ini menjadi momen berkumpulnya masyarakat lokal dan para peternak, khususnya dari berbagai wilayah di Jawa Barat.

“Melalui acara seperti ini silaturahim orang Sunda makin kuat. Selain itu, kualitas budidaya juga ikut naik, jadi perputaran ekonomi masyarakat lokal,” ujar Jajang kepada ANTARA.

Bagi masyarakat Sunda, ketangkasan domba sejatinya bukan hal baru. Tradisi ini telah lama hidup dan mengakar.

Namun kali ini, perhelatan tersebut tak berhenti sebagai ajang hiburan atau sekadar perayaan ulang tahun organisasi peternak. Ia berkembang menjadi ruang temu yang mempertemukan hobi, budaya, dan kepentingan ekonomi dalam satu panggung bersama.

Dari kandang ke Pasar

Jajang (43) menjelaskan bahwa tradisi ketangkasan domba tak hanya dipertahankan, tetapi juga terus diperbarui. Tujuannya agar para peternak tidak semata bergantung pada kehidupan di kandang, melainkan mampu menaikkan level usaha dan menembus pasar yang lebih luas.

Menurut dia, pendekatan edukatif turut menyertai kegiatan ini, mulai dari penyuluhan kesehatan hewan, teknik pemeliharaan yang baik, hingga strategi meningkatkan kualitas ternak agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Hewan ternak yang dirawat dengan standar kesehatan dan pakan yang baik terbukti memiliki daya saing lebih kuat. Dari kandang-kandang rakyat, lahir domba dan kambing unggulan dengan nilai jual yang tak lagi dianggap remeh. Bahkan, untuk ternak berkualitas tertentu, harga puluhan hingga ratusan juta rupiah menjadi hal yang wajar.

“Ketika kualitas ternak dipamerkan, harga pun ikut naik, dan itu tentu membantu ekonomi kerakyatan di sektor peternakan,” kata Jajang menjelaskan.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |