Jakarta (ANTARA) - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menyepakati komitmen kerja sama perdagangan dan investasi di berbagai sektor senilai 38,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp649,42 triliun.
Kesepakatan tersebut diresmikan dalam acara US-Indonesia Business Summit 2026 yang diselenggarakan oleh the U.S. Chamber of Commerce (USCC), the US-ASEAN Business Council (USABC), dan the U.S.-Indonesia Society (USINDO) di Washington D.C., Rabu (18/2) waktu setempat.
“Saya memahami cara kerja pasar. Pasar menghargai transparansi, disiplin dan kredibilitas. Tanggung jawab saya sebagai Presiden, memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan bahwa kami memenuhi standar internasional. Ini tentang bagaimana menjaga integritas ekonomi kita, dan kepercayaan investor jangka panjang,” kata Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya, dikutip di Jakarta, Jumat.
Secara rinci, pada sektor agro, total kesepakatan pembelian mencapai 4,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp76,10 triliun.
Nilai tersebut mencakup komitmen pembelian kedelai sebesar 1,37 miliar dolar AS atau Rp23,17 triliun, gandum sebesar 1,25 miliar dolar AS atau Rp21,14 triliun yang direncanakan hingga tahun 2030, jagung senilai 855 juta dolar AS atau Rp14,46 triliun, kapas senilai 244 juta dolar AS atau Rp4,13 triliun, serta berbagai produk agro lainnya yang mencapai 800 juta dolar AS atau setara Rp13,53 triliun.
Sementara itu, sektor industri manufaktur mencatatkan kesepakatan investasi yang lebih besar, yakni mencapai 33,91 miliar atau setara Rp573,48 triliun.
Beberapa poin kerja sama utama di sektor ini meliputi kemitraan antara Kadin dengan USABC sebesar 2,00 miliar atau Rp33,82 triliun, penyediaan bahan baku industri berupa Shredded Worn Clothing senilai 200 juta dolar AS atau Rp3,38 triliun, hingga rencana raksasa pada industri semikonduktor yang masing-masing mencapai 4,89 miliar dolar AS atau Rp82,70 triliun dan 26,7 miliar dolar AS atau Rp451,55 triliun.
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia sebagai mitra strategis membutuhkan forum bisnis yang melibatkan perusahaan besar AS dan asosiasi usaha untuk mendorong kolaborasi di berbagai bidang.
Fokus utama kerja sama diarahkan untuk meningkatkan daya saing nasional, terutama melalui pengembangan inovasi digital, kecerdasan artifisial, semikonduktor, mineral kritis, ketahanan rantai pasok, serta transisi energi dan industri pengolahan.
Menko Airlangga juga menegaskan bahwa selesainya Agreement on Reciprocal Trade (ART) menjadi bukti kuat komitmen kedua negara dalam membuka akses pasar dan menghapus berbagai hambatan perdagangan.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kepastian usaha yang lebih baik di Indonesia maupun AS.
“Melalui kesepakatan dalam ART ini, akan semakin memperkuat akses pasar dan daya saing produk Indonesia, sehingga akan menarik investasi yang lebih besar di berbagai sektor,” ujar dia.
Baca juga: Seskab: Prabowo dan Trump sepakati perdagangan timbal balik
Baca juga: Prabowo undang pengusaha AS berinvestasi di Indonesia
Baca juga: USTR: Kesepakatan dagang RI-AS segera rampung dalam beberapa pekan
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































