Paris (ANTARA) - PARIS, 26 Juli (Xinhua) -- Sekitar 98.000 hektare lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh Prancis sepanjang 2026, menandai rekor tertinggi bagi negara tersebut, menurut otoritas Prancis pada Sabtu (25/7).
Berbicara dalam jumpa pers, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan bahwa beberapa kebakaran masih belum berhasil dikendalikan di berbagai wilayah negara tersebut, terutama di departemen Gironde, Landes, dan Var.
Sebuah mobil pemadam kebakaran melintas di depan Istana Fontainebleau di Seine-et-Marne, Prancis, pada 14 Juli 2026. (Xinhua/Wu Huiwo) Keadaan darurat yang masih berlangsung ini telah menyebabkan evakuasi besar-besaran di Prancis barat daya. Menurut Nunez, sebanyak 57.000 orang dievakuasi dalam semalam akibat kebakaran yang terus meluas di Gironde, sehingga jumlah total penduduk yang telah dievakuasi di wilayah tersebut mencapai 167.000 orang.
Pada Jumat (24/7), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Prancis telah meminta pengaktifan Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa (European Union Civil Protection Mechanism/UCPM) karena karhutla terus menyebar di seluruh negara itu.
Foto yang diambil pada 14 Juli 2026 ini menunjukkan ternak dan pepohonan yang diselimuti asap akibat kebakaran hutan di Seine-et-Marne, Prancis. (Xinhua/Wu Huiwo) Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Macron mengatakan bahwa situasi karhutla masih berada dalam kondisi yang sangat genting, terutama di Gironde, seraya menambahkan bahwa Prancis akan segera menerima bantuan pemadaman kebakaran melalui udara dari Kroasia, Portugal, Republik Ceko, dan Slovakia
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































