Jakarta (ANTARA) - Penyanyi Raisa mengaku menghadapi tantangan saat memerankan tokoh Srikandi dalam Pagelaran Sabang Merauke bertajuk "Hikayat Srikandi Nusantara".
Menurut Raisa, tantangan terbesar adalah memerankan karakter Srikandi yang sangat berbeda dengan kepribadiannya.
"Aku merasa yang paling susah adalah memerankan karakter Srikandi itu benar-benar 180 derajat berbeda dari karakter Raisa yang asli. Jadi hari pertama tuh Raisa stop klemar-klemer," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Baca juga: Wamenekraf nilai pertunjukkan budaya jadi perekat persatuan bangsa
Ia mengatakan selama proses pendalaman karakter terus mengingatkan dirinya untuk tampil lebih tegas dan meninggalkan sifat "klemar-klemer" agar dapat memerankan sosok ksatria dengan meyakinkan.
"Yang paling menantang itu justru pemahaman aku terhadap karakternya, terus memisahkan karakter aku yang asli dengan karakter Srikandi," katanya.
Selain mendalami karakter, Raisa juga mengaku menghadapi tantangan dalam mempelajari koreografi dan dialog.
Baca juga: Menyelami hikayat Nusantara melalui Pagelaran Sabang Merauke
"Latihan koreografi paling susah buat aku karena aku lumayan kaku. Tapi untungnya Srikandi itu memang ksatria, jadi dia ada kaku-kakunya," ujarnya.
Dari sisi musik, Raisa mengaku lebih percaya diri karena lagu-lagu yang dibawakan telah diaransemen sehingga membuatnya lebih nyaman saat tampil.
Pagelaran Sabang Merauke menghadirkan pertunjukan seni kolosal yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke melalui kisah "Hikayat Srikandi Nusantara".
Pertunjukan tersebut mengangkat perjuangan perempuan dalam cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Yura Yunita "melayang" saat nyanyikan lagu Mahadewi
Baca juga: Wamenbud: Pagelaran Sabang Merauke bukti Indonesia negara kebudayaan
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































