Jakarta (ANTARA) - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) meyakini pengembangan pabrik soda ash yang tengah digarap, menjadi langkah strategis dalam menekan ketergantungan impor sekaligus mempercepat hilirisasi industri berbasis amonia di dalam negeri.
VP Pengembangan Bisnis Pupuk Kaltim Astri Agustina di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik soda ash dilatarbelakangi tingginya kebutuhan nasional yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga 2025 Indonesia masih mengimpor soda ash sekitar 1 juta ton per tahun.
"Untuk mengurangi ketergantungan Indonesia atas impor soda ash, mungkin bisa dilihat dari data BPS sampai tahun 2025 Indonesia masih impor soda ash dari luar negeri sekitar 1 juta ton. Dan ini juga bagian dari hilirisasi produk ammonia yang meningkatkan value added," katanya.
Ia menambahkan, proyek ini akan meningkatkan value added melalui pemanfaatan amonia hingga 105 ribu ton per tahun.
Selain itu, pabrik itu juga mendukung program dekarbonisasi perusahaan dengan menyerap emisi karbon dioksida (CO2) dari pabrik eksisting hingga 174 ribu ton per tahun untuk digunakan sebagai bahan baku produksi.
Baca juga: Pupuk Kaltim pastikan stok pupuk untuk petani tercukupi
Baca juga: Komisi IV: Revitalisasi pabrik pupuk investasi kemandirian industri
Tak hanya menghasilkan soda ash, fasilitas ini juga akan memproduksi ammonium chloride yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk nitrogen maupun aplikasi langsung sebagai pupuk.
Lebih lanjut, dari sisi bisnis, kehadiran pabrik ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan perusahaan melalui penjualan soda ash dan ammonium chloride, sekaligus memperluas portofolio produk dan pasar baru.
Astri memaparkan kapasitas produksi pabrik soda ash dan ammonium chloride masing-masing mencapai 300 ribu ton per tahun.
Proyek ini berlokasi di kawasan industri Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang, Kalimantan Timur yang efektif sejak Juni 2025 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2028.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proyek ini juga memberikan multiplier effect yang signifikan. Dari sisi pemerintah, proyek ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara, mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta menghemat devisa melalui substitusi impor.
Sementara dari sisi sosial, proyek ini diperkirakan menyerap tenaga kerja hingga 800 orang saat konstruksi dan sekitar 100 orang pada tahap operasional. Selain itu, proyek ini juga akan meningkatkan utilisasi garam industri hingga 350 ribu ton per tahun.
Selain proyek ini, perusahaan juga menjalankan revamping Pabrik Amonia 2 serta menyiapkan ekspansi kapasitas produksi pupuk untuk mendukung kebutuhan industri ke depan.
Baca juga: Produksi Pupuk Kaltim lampaui target, capai 6,67 juta ton di 2025
Baca juga: Pupuk Kaltim jual 836 ribu ton pupuk lewat program One Day Promotion
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































