Istanbul (ANTARA) - Presiden Lebanon Joseph Aoun, Jumat, mengecam serangan terbaru Israel di wilayah bagian selatan dan timur Lebanon yang dinilainya semakin meluas, menimbulkan lebih banyak korban jiwa dan kerusakan.
Kepala negara Lebanon itu juga mendesak diberlakukan gencatan senjata secara menyeluruh secepat mungkin.
“Apa yang kita saksikan hari ini di wilayah selatan dan Bekaa, yakni meluasnya serangan Israel serta bertambahnya korban jiwa dan kerusakan, merupakan eskalasi berbahaya yang patut dikecam,” kata Aoun dalam pernyataan yang dikutip dari akun resmi kantornya di platform media sosial X.
Menurut Aoun, serangan tersebut telah menimpa puluhan warga sipil tak bersalah, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menghambat upaya untuk memperkuat gencatan senjata dan mengakhiri perang, terutama setelah perkembangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
“Serangan-serangan itu tidak akan menghentikan kami untuk terus bekerja demi mewujudkan gencatan senjata yang komprehensif sesegera mungkin,” ujarnya.
Aoun menegaskan bahwa tidak boleh ada kelonggaran dalam persoalan tersebut karena gencatan senjata menyeluruh merupakan pintu masuk untuk membahas berbagai isu penting lainnya.
“Tidak boleh ada toleransi dalam masalah ini, karena gencatan senjata yang komprehensif merupakan gerbang untuk membahas persoalan-persoalan lain, terutama penarikan pasukan Israel, penempatan tentara, dan pemulangan para tahanan,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah sedikitnya 31 warga Lebanon dilaporkan tewas di wilayah selatan dan timur negara itu sejak Jumat dini hari. Serangan Israel terus berlanjut meskipun kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Macron: Strategi Israel di Timur Tengah picu kebencian, kekerasan
Baca juga: Protes aksi Israel di Lebanon, Iran tunda perundingan teknis dengan AS
Baca juga: Presiden Lebanon sebut 18 persen wilayah negaranya rusak akibat perang
Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































