PHEV dinilai tawarkan solusi atasi keterbatasan mobil listrik

21 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kendaraan hibrida jenis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dinilai menawarkan solusi untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dalam penggunaan mobil listrik.

"PHEV menghadirkan pengalaman berkendara elektrik untuk aktivitas sehari-hari sekaligus memberikan ketenangan untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa dibayangi range anxiety," kata Kepala Bagian Penjualan dan Pemasaran PT Sokonindo Automobile Doni Putra Okten.

Keunggulan PHEV dibandingkan dengan mobil listrik murni dikemukakan dalam diskusi bertajuk "The Next Drive: Why PHEV?" yang diadakan pada Selasa (4/8) di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten.

Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan industri otomotif dan pemerhati keselamatan penggunaan kendaraan listrik itu dijelaskan bahwa PHEV menggabungkan motor listrik bertenaga baterai dengan mesin berbahan bakar bensin.

PHEV memungkinkan pengendara menggunakan mesin bertenaga listrik saat berkendara dalam jarak lebih pendek dan beralih menggunakan mesin berbahan bakar mesin saat menempuh jarak jauh.

Penggunaan jenis kendaraan seperti itu bisa mengurangi kekhawatiran terkait keterbatasan jarak tempuh kendaraan elektrifikasi.

Baca juga: Toyota menilai PHEV kurang cocok di medan berat

Selain menawarkan efisiensi dalam penggunaan energi, PHEV juga dinilai bisa mengurangi kekhawatiran pengguna mengenai keamanan baterai kendaraan elektrifikasi.

Hingga saat ini masih ada kekhawatiran mengenai risiko baterai terbakar, usia pakai baterai pendek, dan biaya perawatan baterai yang tinggi di kalangan pengguna kendaraan elektrifikasi.

Padahal, baterai kendaraan elektrifikasi modern telah melalui pengujian keamanan yang mencakup uji ketahanan terhadap benturan, uji ketahanan dalam kondisi suhu ekstrem, serta uji sistem pengelolaan baterai (Battery Management System/BMS).

Ahli Produk PT Sokonindo Automobile Ichsan Aria Putra mengemukakan bahwa sebagian besar kekhawatiran konsumen kendaraan elektrifikasi sudah dijawab dengan penerapan standar keamanan baterai serta prosedur penggunaan kendaraan elektrifikasi.

"Setiap baterai DFSK E5 Plus telah melalui pengujian keselamatan dan ketahanan yang komprehensif sebelum digunakan oleh konsumen," katanya dalam acara diskusi yang diadakan oleh PT Sokonindo Automobile (DFSK) bersama EVSafe Indonesia.

"BMS kami juga dirancang untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang dengan mengoptimalkan proses pengisian, penggunaan, hingga perlindungan terhadap berbagai kondisi operasional," ia menambahkan.

Baca juga: DFSK fokus pada PHEV karena infrastruktur EV belum merata

Pendiri EVSafe Indonesia Mahaendra Gofar menyampaikan bahwa transisi menuju penggunaan kendaraan elektrifikasi membutuhkan penerapan standar keamanan kendaraan dan baterai serta edukasi kepada pengguna.

"PHEV memiliki peran strategis sebagai jembatan yang mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keberhasilan transisi ini juga bergantung pada edukasi yang mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap teknologi tersebut," katanya.

Selain itu, ia mengemukakan pentingnya ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan layanan purnajual kendaraan dalam proses transisi menuju penggunaan kendaraan elektrifikasi.

Pada masa transisi, ketika ketersediaan infrastruktur pendukung pengisian daya kendaraan elektrifikasi masih terbatas, PHEV bisa menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin beralih menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: GWM tambah produksi Tank 300 PHEV saat harga BBM naik

Baca juga: Pengguna EV dan PHEV di Inggris dikenai pajak sesuai jarak tempuh

Pewarta:
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |