Jakarta (ANTARA) - Mencampur beras merah dan beras putih saat memasak nasi masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat yang ingin mendapatkan manfaat kesehatan sekaligus mempertahankan tekstur nasi yang lebih pulen. Namun, para ahli memiliki pandangan berbeda mengenai efektivitas campuran kedua jenis beras tersebut.
Beras merah dikenal memiliki kandungan serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif yang lebih tinggi dibandingkan beras putih karena masih mempertahankan sebagian lapisan kulit ari. Sementara itu, beras putih telah melalui proses penggilingan lebih lanjut sehingga sebagian kandungan serat dan nutrisi pada lapisan luar berkurang.
Baca juga: Ini cara simpan beras yang benar dan tanda beras kedaluarsa
Apakah beras merah boleh dicampur dengan beras putih?
Secara umum, mencampur beras merah dan beras putih tidak dilarang dan tetap aman untuk dikonsumsi. Namun, manfaat kesehatan dari beras merah dapat menjadi kurang optimal apabila jumlah beras putih yang digunakan jauh lebih banyak.
Menurut sejumlah ahli, tujuan utama mengonsumsi beras merah biasanya untuk mendapatkan asupan serat lebih tinggi dan membantu mengontrol asupan karbohidrat. Jika dicampur dengan beras putih dalam jumlah besar, kandungan karbohidrat dan indeks glikemik makanan dapat meningkat sehingga manfaat beras merah tidak maksimal.
Di sisi lain, ahli gizi juga menjelaskan bahwa pencampuran beberapa jenis beras tidak otomatis menghilangkan seluruh kandungan nutrisinya. Konsumen tetap dapat memperoleh manfaat dari masing-masing jenis beras, meskipun terdapat perbedaan komposisi gizi.
Perbedaan kandungan beras merah dan putih
Beras merah memiliki lapisan kulit ari yang masih terjaga sehingga mengandung lebih banyak serat, magnesium, vitamin B, serta antioksidan dibandingkan beras putih.
Kandungan serat yang lebih tinggi pada beras merah dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung kesehatan sistem pencernaan. Sementara itu, beras putih tetap menjadi sumber energi karena mengandung karbohidrat yang mudah digunakan tubuh.
Baca juga: Jamu beras kencur, berkhasiat alami untuk kesehatan dan kebugaran
Mengapa banyak orang mencampur beras merah dan putih?
Salah satu alasan masyarakat mencampurkan kedua jenis beras tersebut adalah tekstur. Beras merah cenderung memiliki tekstur lebih keras dan rasa yang lebih khas dibandingkan beras putih.
Dengan mencampurnya, sebagian orang merasa mendapatkan keseimbangan antara rasa, tekstur, dan kandungan gizi. Selain itu, cara tersebut juga dapat menjadi langkah awal bagi orang yang ingin mulai beralih dari nasi putih ke nasi merah.
Tips mencampur beras merah dan putih
Bagi masyarakat yang ingin mencoba kombinasi kedua jenis beras tersebut, beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- Gunakan perbandingan yang sesuai agar manfaat beras merah tetap terasa.
- Rendam beras merah terlebih dahulu sebelum dimasak agar teksturnya lebih lunak.
- Perhatikan porsi makan, terutama bagi orang yang sedang mengontrol berat badan atau kadar gula darah.
- Lengkapi dengan lauk bergizi dan sayuran agar kebutuhan nutrisi lebih seimbang.
Lebih baik beras merah atau beras putih?
Tidak ada satu jenis beras yang selalu paling baik untuk semua orang. Pilihan beras perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta pola makan masing-masing.
Bagi orang yang membutuhkan asupan serat lebih tinggi atau sedang mengatur pola makan, beras merah dapat menjadi pilihan. Namun, beras putih tetap dapat dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Dengan demikian, mencampur beras merah dan putih tetap diperbolehkan. Meski begitu, apabila tujuan utamanya adalah mendapatkan manfaat kesehatan dari beras merah, sebaiknya tetap memperhatikan komposisi campuran dan tidak menggunakan terlalu banyak beras putih.
Baca juga: Manfaat konsumsi beras merah untuk kesehatan tubuh
Baca juga: Sederet manfaat jamu beras kencur untuk kesehatan
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































