Perlu upaya komprehensif untuk mencegah pneumonia pada anak

3 months ago 15

Jakarta (ANTARA) - Dokter anak subkonsultan respirologi dari FK UI RS Cipto Mangunkusumo dr. Wahyuni Indawati Sp.A Subsp. Respi mengatakan perlu upaya perlindungan yang komprehensif dari hulu hingga hilir sebagai proteksi agar anak tidak sampai jatuh pada sakit pneumonia.

"Bagaimana caranya? dengan menyediakan lingkungan yang sehat, lingkungan yang baik mulai dari sejak dini pemberian ASI eksklusif pada bayi, pemberian nutrisi yang baik jangan sampai bayi lahir prematur, kemudian mengurangi polusi udara baik domestik maupun di luar (outdoor pollution)," kata Wahyuni dalam acara Media Session World Pneumonia Day 2025 di Jakarta, Senin.

Pneumonia atau radang paru-paru merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi streptococcus pneumoniae, yang merusak jaringan paru sehingga menyebabkan oksigen sulit masuk dan dapat menyebabkan kematian.

Terdapat 725.000 kasus di seluruh dunia anak yang meninggal karena pneumonia, dan Indonesia berada di peringkat ke 7 dari 15 negara sebagai negara yang banyak menyumbang kematian akibat pneumonia pada anak.

Wahyuni mengatakan pencegahan pneumonia dengan meningkatkan ASI eksklusif selama enam bulan pada bayi baru lahir, memiliki kemampuan sekitar 20 persen mereduksi terjadinya pneumonia.

Orang tua juga perlu melengkapi gizi anak sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhannya agar tidak terjadi gizi buruk, yang menjadi penyumbang pneumonia pada anak Indonesia sekitar 63 persen, serta menghindari polusi domestik yang menyumbang angka kejadian 17 persen, dan menghindari anak sebagai second hand smoker.

Selain itu upaya yang lebih spesifik untuk pencegahan pneumonia adalah vaksinasi sesuai dengan jenis bakteri dan virus penyebab pneumonia seperti streptococcus pneumoniae, pneumokokus influenza dan penyakit-penyakit lain yang komplikasinya menyebabkan pneumonia misalnya campak, pertusis dan lain-lain.

Baca juga: Gejala pneumonia berbeda dengan flu, bisa menyebar ke organ lain

Vaksinasi, katanya, mampu mencegah anak terinfeksi pneumonia sebesar 50 persen, dan dapat ditingkatkan dengan melakukan pengulangan sesuai usia, dengan jadwal imunisasi yang dikeluarkan pemerintah.

Ia juga mengingatkan bagi anak-anak yang memiliki kekebalan tubuh kurang harus dicegah jangan sampai terkena pneumonia dan diberikan terapi yang cukup misalnya pada anak dengan HIV atau diare.

Upaya perlindungan ini termasuk dalam gerakan Global Action Plan for Prevention and Control of Pneumonia yang sudah dilakukan dunia untuk mencegah anak usia lima tahun ke bawah terkena pneumonia, yang sering kali luput dari perhatian orang tua sebagai salah satu penyakit yang bisa menyebabkan kematian atau most forgotten killer.

"Yang terpenting juga bagaimana kita mengenali secara dini gejala-gejala dari pneumonia supaya ketika datang ke dokter atau ke fasilitas layanan kesehatan mereka datang dalam kondisi yang tidak terlambat atau tidak berat sehingga itu akan mencegah kematian," kata Wahyuni.

Wahyuni menjelaskan anak yang mengalami batuk dibarengi dengan nafas cepat dan berat dengan ciri-ciri ada tarikan nafas di dinding dada, harus segera di obati.

Selain itu, lengkapi imunisasi dasar anak, serta imunisasi spesifik untuk penyebab utama pneumonia terutama PCV dan influenza, menghindari anak dari gizi buruk, dan meningkatkan kebiasaan hidup sehat dan menerapkan etika batuk untuk mencegah droplet yang menularkan pneumonia.

Baca juga: PAPDI ingatkan bahaya pneumonia bila tak ditangani dengan tepat

Baca juga: Vaksinasi jadi bagian upaya pencegahan pneumonia di Indonesia

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |