Komisi VII soroti wisman Singapura-Malaysia belanja sembako di Batam

1 hour ago 3

Batam (ANTARA) - Komisi VII DPR RI menyoroti fenomena kunjungan wisatawan mancanegara dari Singapura dan Malaysia meningkat, namun berlangsung singkat hanya diduga untuk membeli bahan pokok di Batam.

Fenomena ini menjadi salah satu latar belakang kunjungan kerja spesifik yang dilakukan rombongan anggota Komisi VII DPR RI ke Kota Batam, Selasa, untuk meminta klarifikasi dari pemerintah daerah setempat.

“Kami datang ke Batam secara serius untuk mendiskusikan adanya fenomena banyaknya turis dari Singapura dan Malaysia masuk ke Batam, ternyata mereka datang khusus untuk belanja, datang pagi pulang sore, cuma menginap satu malam,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay di Batam.

Menurut dia, fenomena ini menjadi catatan pihaknya untuk mendorong bagaimana agar wisatawan dari Singapura dan Malaysia itu tidak hanya datang berbelanja bahan pokok, lalu pulang.

Meski di satu sisi fenomena ini baik untuk masyarakat karena ada uang yang dibelanjakan, terlebih selisih mata uang Indonesia dengan Singapura yang cukup jauh menguntungkan bagi warga negara tetangga tersebut tetapi tidak berdampak luas ke masyarakat.

“Ini menjadi catatan Komisi VII bagaimana ini kota nanti dinaikkan pendapatan masyarakatnya bisa lebih bagus dan tidak hanya berputar pada elit para pengusaha saja,” katanya.

“Tapi bagaimana berdampak pada masyarakat kecil termasuk UMKM. Makanya, tadi kami mengundang UMKM untuk memberikan pendapatnya agar bisa bersama-sama mengurus Batam ini,” katanya.

Baca juga: Kunjungan wisman ke Batam tembus 160 ribu tertinggi sepanjang 2025

Anggota Komisi VII Bane Raja Manulu khawatir fenomena wisatawan Singapura ke Batam hanya dua hari satu malam itu bukan untuk berwisata, tapi untuk berbelanja bahan pokok di Batam.

Dari paparan Kepala Dinas Pariwisata Kepri yang mengatakan rata-rata wisman membelanjakan uang-nya di Kepri sebesar 226 dolar Amerika. Angka tersebut jika dibulatkan 300 dolar Amerika kurang lebih hanya Rp4,8 juta.

“Kalau dibulatkan 300 dolar Amerika itu cuma Rp4,8 juta, itu sama beli beras, minyak. Dan masyarakat Batam ini berkompetisi dengan Singapura, sementara dari sisi penghasilannya mereka berbeda, UMK Batam Rp5,6 juta, sedangkan warga Singapura belanja Rp5 juta itu sangat wajar,” kata Bane.

Bane berharap fenomena ini menjadi bahan evaluasi oleh Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Daerah agar bisa meningkat rata-rata lama tinggal wisatawan agar lebih dari dua hari, sehingga bisa dibedakan mana yang benar-benar turis atau cuma pergi belanja sembako.

“Kalau wisman ke Batam itu belanja kurang dari 300 dolar bisa dipastikan berarti hanya penyeberang harian,” kata Bane.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan pihaknya tengah berupaya meningkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara di Kepri.

Dia mengatakan tahun 2025 jumlah kunjungan wisman ke Kepri sebanyak 2,27 juta orang atau meningkat dari tahun 2024 hanya sebesar 1,67 juta orang, sedangkan wisatawan nusantara 4,2 juta orang.

Dia mengatakan pergerakan devisa negara dari sektor pariwisata di Kepri sebesar Rp22,6 triliun, dihitung dari wisman per orang 226 dolar Amerika per visit dikali kurs Rp16.100.

“Rata-rata lama tinggal wisma di Kepri itu 1,89 hari atau mendekati dua hari. Ini yang masih kami kejar untuk lenght of stay-nya,” kata Hasan.

Baca juga: Relaksasi regulasi visa khusus untuk Kepri tingkatkan kunjungan wisman

Baca juga: Arus mudik Pelabuhan Batam Centre imbang antara WNI dan WNA

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |