Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya mengkaji untuk menyetop ekspor produk timah dalam rangka memperkuat ekonomi di dalam negeri.
Menurut dia, ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.
"Tahun lalu, kita melarang ekspor bauksit. Dan, tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah," katanya, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, program hilirisasi menjadi salah satu program prioritas Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia.
"Hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Ia mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019, membuat total ekspor nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dolar AS. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dolar AS atau 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan kerja," ujar Bahlil.
Ke depan, Bahlil akan mengkaji penyetopan ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah.
"Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," sambung Bahlil saat berbicara dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Beberapa waktu yang lalu, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional pada 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun.
Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada 2026, termasuk hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga kilang minyak.
Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri.
Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.
"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," sebutnya.
Hingga 2040, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga 618 miliar dolar AS.
Dari jumlah itu, sebanyak 498,4 miliar dolar AS datang dari subsektor mineral dan batu bara (minerba) dan 68,3 miliar dolar AS dari minyak dan gas bumi.
Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor 857,9 miliar dolar AS, pendapatan domestik bruto (PDB) 235,9 miliar dolar AS, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.
Baca juga: Bahlil wajibkan BBM kandung etanol 20 persen pada 2028
Baca juga: Menteri Bahlil sebut nasib tambang emas Martabe diumumkan pekan depan
Baca juga: Bahlil: Penyesuaikan RKAB perusahaan tambang jaga dan amankan energi
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































