Menjaga nadi industri dari gangguan suplai plastik

1 hour ago 1
Kemenperin juga saat ini sedang mengakselerasi penggunaan kemasan nonplastik, yakni aseptik berbasis kertas (paperboard) sebagai alternatif kemasan untuk digunakan produk industri

Jakarta (ANTARA) - Belakangan ini, tekanan akibat konflik di Timur Tengah mengganggu rantai pasok bahan baku dan suplai plastik dunia. Padahal, plastik merupakan bagian penting yang menopang berbagai sektor, terutama untuk industri.

Ketika pasokan plastik terganggu, efeknya bisa merambat luas dari industri hulu ke hilir, dari produsen hingga konsumen.

Ketegangan geopolitik global dan gangguan jalur distribusi membuat waktu pengiriman bahan bakunya, seperti nafta terganggu. Jika sebelumnya distribusi bisa ditempuh dalam hitungan dua minggu, kini dapat memakan waktu lebih dari satu bulan.

Hambatan ini tidak hanya berdampak pada keterlambatan produksi, tetapi juga meningkatkan biaya logistik dan tentunya menekan margin pelaku industri.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah Indonesia memilih untuk tidak bersikap reaktif semata.

Upaya menjaga ketahanan plastik nasional dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir, untuk industri besar hingga industri kecil menengah (IKM).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan jaminan ketersediaan plastik dari pelaku industri.

Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini, industri masih mampu menjaga stok agar tetap aman, meskipun tekanan global terus berlangsung.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi dunia usaha, mengingat pasokan adalah fondasi utama bagi keberlanjutan produksi.

Tanpa itu, industri berpotensi menghadapi risiko penurunan kapasitas, bahkan penghentian operasional dalam skala tertentu.

Di sisi lain, pelaku industri juga menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas.

Produsen petrokimia dalam negeri Lotte Chemical Indonesia memprioritaskan kebutuhan pasar domestik, terutama bagi sektor hilir yang bergantung pada bahan baku plastik.

Langkah ini menjadi penting untuk memastikan bahwa kebutuhan dalam negeri tidak kalah saing dengan permintaan ekspor.

Selain itu, bagi industri makanan dan minuman, keberadaan plastik bukan sekadar pelengkap. Tanpa kemasan yang memadai, risiko kerusakan produk meningkat yang pada akhirnya dapat mengurangi keuntungan dan suplai.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menekankan kepastian ketersediaan bahan baku sangat penting untuk menjaga kelangsungan produksi dan distribusi pangan.

Ia juga menekankan bahwa gangguan pada sektor kemasan dapat berdampak langsung pada stabilitas harga dan ketersediaan produk di pasaran.

Upaya menjaga

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |