Peran "Extended Producer Responsibility" untuk kurangi sampah

1 month ago 23

Jakarta (ANTARA) - Bukit sampah kecil muncul di dekat Pasar Cimanggis, Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu imbas dari penutupan sementara Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang. Itu menjadi alarm kecil dari peliknya masalah sampah di negeri ini.

Tumpukan itu mayoritas limbah rumah tangga dan pasar, terdiri atas sampah organik dan anorganik yang kebanyakan dicampur dalam satu kantong plastik besar. Menandakan belum ada upaya pemilahan sampah di wilayah tersebut.

Pada tumpukan sampah itu juga banyak sampah kemasan produk yang seharusnya diambil kembali oleh korporasi, sebagai bagian tanggung jawab produsen yang diperluas atau dikenal dengan istilah Extended Producer Responsibility (EPR).

EPR adalah prinsip bahwa produsen bertanggung jawab hingga masa akhir pakai dari kemasan produk yang mereka mereka keluarkan. Termasuk untuk mengelola limbahnya. Langkah itu diperlukan sebagai bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah nasional terutama sampah plastik.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2024 memperlihatkan dari total 38,59 juta ton timbulan sampah nasional sebanyak 19,46 persen di antaranya adalah sampah plastik, terbesar keduasetelah sampah sisa makanan.

Berdasarkan fakta tersebut, ditambah dengan peninjauan KLH yang memperlihatkan kinerja penanganan sampah baru mencapai sekitar 24 persen, memperlihatkan adanya ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Terutama ketika sampah plastik yang sulit terdegradasi sempurna secara alami bocor ke lingkungan dan menimbulkan pencemaran dalam bentuk mikroplastik.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menyatakan bahwa potensi cemaran mikroplastik juga dapat muncul dari sampah seperti puntung rokok, Jadi bukan hanya berasa dari produk plastik seperti kemasan makanan, minuman dan produk yang dikemas dalam sachet, .

Puntung rokok dengan filter berbahan selulosa asetat akan terurai menjadi fiber mikroplastik ketika terbuang di lingkungan. Paparan panas dalam jangka waktu yang lama akan membuat fiber terlepas ke lingkungan menghasilkan mikroplastik.

Pencemaran bertambah ketika mikroplastik yang terlepas ke lingkungan berpotensi menyerap polutan lain termasuk logam berat. Mikroplastik itu kemudian dapat masuk ke dalam rantai makanan, termasuk yang dikonsumsi oleh manusia.

Mengingat sifat sampah plastik yang sulit terurai, peran konsumen untuk tidak membuang sampah sembarangan kemudian menjadi kunci. Hal itu perlu juga didukung oleh implementasi EPR oleh perusahaan yang memproduksi jenis sampah-sampah tersebut.

"Kita sudah tahu ini, sebenarnya EPR ini harusnya dipakukan untuk seluruh sampah dari produsen," tutur Reza.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |