Penglingsir Puri dan tokoh lintas agama di Bali berdoa untuk Nusantara

2 weeks ago 15

Buleleng, Bali (ANTARA) - Belasan penglingsir Bali yang tergabung dalam Paiketan Puri-Puri Se-jebag Bali, para sulinggih dan pedanda dari berbagai wilayah Bali, serta tokoh-tokoh lintas agama berdoa bersama untuk Nusantara di Pura Penyusuhan di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia yang menginisiasi kegiatan doa bersama tersebut dalam keterangannya di Denpasar, Minggu mengatakan doa yang dipanjatkan itu tidak hanya berangkat dari kegelisahan atas bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tetapi ada satu niat besar lain yang mengemuka mengawal secara spiritual pembangunan Bandara Internasional Bali Utara.

Putu Dunia menegaskan doa untuk bandara ini bukan kepentingan sempit wilayah, melainkan ikhtiar strategis untuk masa depan Indonesia.

“Bali selama puluhan tahun menopang pariwisata nasional, tetapi beban itu terlalu berat ditanggung oleh Bali Selatan. Ketimpangan ini tidak sehat bagi Bali, bagi alam, dan bagi Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan Bandara Internasional Bali Utara harus kita kawal, bukan hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan doa,” ujar Putu Dunia.

Menurut dia, selama ini denyut pariwisata dan ekonomi Bali bertumpu hampir sepenuhnya di wilayah selatan. Bandara I Gusti Ngurah Rai, sebagai pintu utama menghadapi keterbatasan struktural seperti dikelilingi laut dan kawasan permukiman, ruang pengembangan fisik yang sangat terbatas, serta tekanan kapasitas penumpang yang terus meningkat.

Dalam kondisi puncak, bandara ini bekerja mendekati batas maksimalnya, menyisakan risiko kepadatan, keterlambatan, dan tekanan lingkungan.

Baca juga: Tokoh Puri Bali dukung bandara Bali Utara untuk pemerataan pembangunan

Ketimpangan ini pun berdampak berlapis seperti kemacetan kronis di Bali Selatan, tekanan terhadap daya dukung lingkungan, serta ketertinggalan pembangunan di wilayah utara, barat, dan timur Bali.

Oleh karena itu, kehadiran Bandara Internasional Bali Utara dipandang sebagai jalan korektif, bukan sekadar alternatif teknis, melainkan strategi pemerataan dan keberlanjutan.

Putu Dunia menekankan bandara ini memiliki makna geopolitik dan geoekonomi nasional.

“Bandara Bali Utara tidak dirancang hanya untuk melayani Bali. Ia disiapkan sebagai hub lalu lintas pariwisata dan perdagangan Indonesia, terutama untuk Indonesia bagian timur, NTT, Maluku, Papua. Ini adalah simpul konektivitas baru Nusantara,” katanya.

Dengan posisi geografis yang strategis, Bali Utara dinilai lebih efektif menjadi penghubung arus manusia, barang, dan logistik antara barat dan timur Indonesia. Dalam konteks ini, bandara bukan hanya infrastruktur transportasi, tetapi instrumen persatuan ekonomi nasional.

Pandangan senada disampaikan Raja Klungkung Ida Dalem Semara Putra yang mengingatkan pentingnya menempatkan pembangunan dalam kerangka keseimbangan.

Baca juga: Kemenhub dukung pembangunan Bandara Bali Utara sesuai visi Presiden

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tahu batas. Bali mengajarkan keseimbangan antara sekala dan niskala, antara kemajuan dan kelestarian. Doa ini adalah pengingat agar Bandara Bali Utara dibangun dengan niat yang lurus dan manfaat yang luas,” ujarnya.

Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |