Pendidikan hibrida ala Presiden Prabowo, mengikis kesenjangan 3T

1 hour ago 3
​Pemerintah harus memastikan bahwa "studio pusat" tidak menjadi menara gading fabrikasi konten searah. Harus ada ruang dialektika antara pusat dan daerah. Selain itu, ketergantungan pada energi juga menjadi catatan.

Jakarta (ANTARA) - ​Pendidikan Indonesia sedang berada dalam percepatan digitalisasi, guna mengurai benang kusut akibat kesenjangan di berbagai wilayah, termasuk di daerah terdepan, terluar, dan terpencil atau 3T.

Perlu orkestrasi kebijakan ambisius untuk menjawab problem pendidikan dalam menghadapi era digitalisasi. Karena itu Presiden Prabowo, dalam suatu kesempatan menegaskan arah baru pendidikan nasional ke depan sebagai pendidikan berbasis hibrida.

Terobosan ini merupakan upaya sistemik untuk melakukan "loncatan katak" (leapfrogging) guna mengejar ketertinggalan kualitas sumber daya manusia akibat batasan geografis.


Rasionalitas

​Langkah pemerintah menjangkau 288.000 sekolah dengan interactive flat panel (IFP) merupakan jawaban rasional terhadap anomali pendidikan saat ini. Selama puluhan tahun, pendidikan kita terjebak dalam paradigma "bangunan fisik". Bahwa pemerataan pendidikan hanya bisa dicapai dengan membangun gedung sekolah. Padahal realita menunjukkan, gedung tanpa guru berkualitas, ibarat raga tanpa jiwa, kering nilai-nilai kognitif.

​Kebijakan pendidikan hibrida menggeser beban biaya bangunan fisik ke ranah digital. Ruang bersama yang dapat diakses secara nasional berjaringan. Pemasangan IFP di wilayah 3T merupakan upaya demokratisasi pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Secara ekonomi, hal ini jauh lebih efisien dibandingkan memobilisasi ribuan guru spesialis ke daerah pelosok yang seringkali terkendala masalah logistik dan kesejahteraan. Dengan teknologi ini, kurikulum Matematika dan Bahasa Inggris, dua bidang keilmuan pilar utama untuk memiliki daya saing global, tidak lagi menjadi monopoli siswa di kota-kota besar, seperti Jakarta atau Surabaya. Siswa di Sabang, Merauke, sampai Miangas atau Rote, dapat menatap konten sama, standar sama, dan frekuensi intelektual dari guru yang sama.


Solusi "dual-teacher"

​Salah satu poin penting dalam gagasan ini, pengembangan studio pusat sebagai jawaban atas krisis distribusi guru. Data menunjukkan, Indonesia tidak hanya kekurangan jumlah guru, tetapi juga mengalami "malanutrisi" guru berkualitas di daerah-daerah tertentu.

​Maka, sistem hibrida gagasan Presiden Prabowo yang merupakan model dual-teacher class ini diharapkan menjadi penopang sukses pendidikan nasional. Dalam skema ini, seorang "guru master" mengajar dari studio pusat dengan fasilitas multimedia lengkap, sementara guru lokal di kelas berperan sebagai fasilitator, mentor, dan penjaga moralitas belajar.

​Secara pedagogis, ini merupakan harmoni antara efisiensi teknologi dan sentuhan "inner humanity", di mana siswa tetap merasa bersama gurunya. Teknologi menangani transfer informasi secara cepat dan efektif, sementara guru fokus pada pembentukan karakter.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |