Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mengklaim jumlah bank sampah di daerahnya terbanyak se-Indonesia dengan total keberadaan aktivitas pengolahan langsung dari sumber tersebut saat ini telah mencapai 556 unit melalui skema kerja pemberdayaan masyarakat.
"Hingga April 2026 lalu saja, jumlah bank sampah sedikitnya ada 556 unit dan itu kini terus bertambah, menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai daerah dengan aktivitas bank sampah terbanyak di Indonesia," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Syafri Donny Sirait di Cikarang, Sabtu.
Dia mengatakan masif aktivitas bank sampah di daerahnya turut dipengaruhi perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah yang tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan.
Donny mengaku pihaknya menargetkan setiap lingkungan Rukun Warga (RW) memiliki satu unit bank sampah dengan harapan mampu membantu menekan volume sampah yang dibuang ke TPA Burangkeng milik Pemkab Bekasi di Kecamatan Setu.
"Target kami satu RW satu bank sampah. Saat ini baru 556 unit, sementara jumlah RW di Kabupaten Bekasi sekitar 3.000. Artinya masih ada ruang besar untuk terus dikembangkan," katanya.
Menurut ia keberhasilan mengelola sampah dari sumber bukan karena besar anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah, melainkan faktor peningkatan kesadaran masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi.
Pihaknya terlebih dahulu memberikan pelatihan kepada pengurus RW sebelum membentuk unit bank sampah baru dengan tujuan agar mereka mampu melakukan edukasi memilah sampah kepada warga.
"Dulu orang menganggap mengumpulkan sampah itu pekerjaan yang tidak berguna. Setelah dijalankan satu hingga dua tahun, ternyata hasilnya bisa menjadi tambahan penghasilan. Dari situlah kini pola pikir masyarakat mulai berubah," ujarnya.
Ia menjelaskan berbagai jenis sampah seperti plastik, kertas, kaca hingga minyak telah memiliki pasar. Bahkan minyak jelantah yang sebelumnya dibuang ke saluran air kini bisa dijual seharga Rp6.000 per kilogram sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus membantu menekan pencemaran lingkungan.
Pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan daur ulang untuk menyerap hasil memilah sampah dari bank-bank sampah yang ada di Kabupaten Bekasi. Ke depan, setiap desa ditargetkan memiliki Bank Sampah Induk yang sekaligus berfungsi sebagai TPS 'Reduce, Reuse, Recycle' (3R).
Keberadaan Bank Sampah Induk dinilai mampu meningkatkan nilai jual sebab setiap sampah yang dikelola sudah melalui proses pencacahan sebelum dikirim ke industri daur ulang.
"Kami sedang mengupayakan agar pembangunan Bank Sampah Induk tidak sepenuhnya menggunakan APBD tetapi melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, BUMDes maupun sektor swasta," katanya.
Donny berharap semakin banyak masyarakat yang aktif memilah sampah dari rumah sehingga volume sampah terangkut ke TPA Burangkeng dapat terus ditekan dan target dua tahun penuntasan status darurat sampah dapat terwujud.
Baca juga: FEB UI dan Bank Sampah berdayakan perempuan Bekasi
Baca juga: Pemkab Bekasi terapkan aplikasi E-Smash kelola bank sampah Baca juga: Dukung gerakan pilah sampah, Bekasi bangun bank sampah induk
Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































