Jakarta (ANTARA) - Pemerhati budaya Bali dari berbagai kalangan mendorong penguatan kegiatan ritual adat Nangluk Merana untuk menjaga kesadaran ekologis dan merawat alam Pulau Dewata.
Mewakilo Griya Wanasari Sanur, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari melalui keterangan di Jakarta, Minggu, menjelaskan bahwa konsep "merana" dalam tradisi Bali tidak semata dimaknai sebagai penyakit atau bencana fisik, tetapi sebagai tanda ketidakseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala.
"Nangluk Merana adalah upaya menyelaraskan kembali energi bhuta kala agar tidak menjadi sumber gangguan. Ritual ini mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi disadari dan dihormati," katanya.
Ida Pedanda menekankan bahwa upacara Bhuta Yadnya di pesisir merupakan bentuk komunikasi spiritual manusia dengan alam, khususnya laut, yang diyakini sebagai sumber amerta atau kesucian dan kehidupan. Namun, hal ini juga bisa menjadi sumber merana jika dilanggar keharmonisannya.
Lebih jauh, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ari Dwipayana menegaskan bahwa diskusi ini merupakan langkah awal membangun kesadaran kolektif untuk melihat Bali sebagai satu kesatuan ekosistem.
Ia menilai masyarakat pesisir memiliki posisi strategis, bukan hanya secara geografis, tetapi juga spiritual dan budaya. Karena itu, pengelolaan pesisir harus memperhatikan aspek ritual, ekologis, budaya, dan ekonomi secara terintegrasi.
Baca juga: Merawat Budaya Mamuju melalui ritual Massossor Manurung
"Bali adalah Bali Dwipa. Ia tidak bisa dipotong-potong. Hulu, tengah, hingga pesisir dan laut adalah satu kesatuan. Menjaga gunung sama pentingnya dengan menjaga laut," ujar Gde.
Sementara itu, Jro Bendesa Adat I Wayan Wisma Lebih memaparkan praktik Nangluk Merana yang secara turun-temurun dilaksanakan masyarakat Desa Adat Lebih, khususnya pada Tilem Kanem. Ritual ini dilakukan di titik-titik strategis pesisir sebagai bentuk penjagaan wilayah secara niskala.
Ia juga menegaskan bahwa Nangluk Merana tidak bisa dilepaskan dari solidaritas sosial masyarakat adat, karena seluruh krama terlibat langsung dalam prosesi dan persiapannya.
"Pesisir adalah benteng pulau Bali. Karena itu, desa adat memiliki tanggung jawab menjaga kesucian dan keseimbangannya melalui ritual, awig-awig, dan keterlibatan krama," ujarnya.
Dari sisi akademik, Dr. Pande Wayan Renawati dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggarisbawahi relevansi ritual Nangluk Merana dalam konteks kontemporer, khususnya krisis iklim dan degradasi ekologi pesisir.
Ia menambahkan pergeseran profesi nelayan dan petani menjadi tantangan tersendiri yang perlu direspons dengan menggali potensi ekonomi berbasis budaya pesisir, tanpa merusak ekosistem.
"Ritual ini adalah pengetahuan ekologis lokal. Di dalamnya ada kesadaran siklus alam, etika lingkungan, dan kontrol diri manusia. Ini sangat relevan dengan persoalan abrasi, sampah laut, hingga perubahan mata pencaharian masyarakat pesisir," tutur Pande Wayan Renawati.
Baca juga: Rekreasi yang jadi ritual pencarian validasi
Baca juga: Bentuk syukur, ribuan orang ikut ritual Petik Laut di Kota Probolinggo
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































