Jakarta (ANTARA) - Pemeran Abimana Aryasatya dan Morgan Oey menceritakan tantangan yang mereka hadapi saat syuting adegan laga dalam film "Ghost in the Cell", termasuk perekaman adegan laga selama 15 menit tanpa jeda.
"Cukup menantang ya, pertama kali ya, cukup menantang karena kita harus mencampur banyak..., enggak bisa dilihat dari adegan laganya saja, karena adegan itu keseluruhan tuh kita ambil cukup panjang," kata Abimana di Jakarta, Kamis.
Abimana, pemeran Anggoro dalam film "Ghost in the Cell", menuturkan bahwa adegan perkelahian narapidana di penjara dalam film tersebut tercatat dalam 14 sampai 15 halaman skrip dan para pemeran harus menampilkan adegan itu dari awal sampai akhir tanpa jeda.
Sementara itu, aktor Morgan Oey mengaku belajar untuk menampilkan komedi dalam adegan laga.
"Komedi laga itu sangat berbeda dengan adegan laga yang berdampak doang, karena komedi laga harus ada ekspresi yang komikal untuk menambah kesan komedinya gitu sih. Itu cukup sulit," katanya.
"Saya merasa pertama kali baca (naskah), kesan saya ini akan menjadi kerja keras dan ternyata benar," kata pemeran Bimo dalam film "Ghost in the Cell" itu.
Abimana juga mengatakan bahwa seluruh pemain dan kru bekerja keras untuk menyelesaikan adegan yang panjang dalam film.
Baca juga: "Ghost in the Cell" dijadikan ajang untuk memamerkan talenta kreatif
Film "Ghost in the Cell" arahan sutradara Joko Anwar dijadwalkan ditayangkan di bioskop mulai 16 April 2026.
"Karena klasifikasi usia film ini 17 tahun ke atas, anak-anak tidak boleh menonton film ini. Tapi saya menyarankan film ini untuk teman-teman Generasi Z," kata aktor Endy Arfian, yang berperan sebagai narapidana bernama Dimas dalam "Ghost in the Cell."
Pemeran Tony dalam film "Pengabdi Setan" itu berharap kaum muda semakin menyadari keadaan setelah menyaksikan "Ghost in the Cell."
"Saya sendiri langsung sadar dengan keadaan. Jadi film 'Ghost in the Cell' ini sangat spesial bagi saya," kata Endy.
Sutradara Joko Anwar mengembangkan cerita "Ghost in the Cell" dari tahun 2018 hingga 2025 berdasarkan fenomena yang berkembang dalam masyarakat.
Dia menggunakan penjara sebagai metafora untuk menggambarkan bagaimana sistem membatasi ruang gerak warga sehingga mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tim produksi film membangun set fasilitas lembaga pemasyarakatan untuk pengambilan gambar.
"Kami membangun tempat penjara itu dari awal sampai jadi, jadi tempat itu fiktif," kata Joko.
Baca juga: Joko Anwar tuangkan kritik sosial dalam "Ghost in the Cell"
Baca juga: Enam ilustrator dilibatkan dalam penggarapan "Ghost in the Cell"
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































