APJATEL tetap berkomitmen gelar jaringan fiber optik meski biaya naik

4 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Jaringan Penyelenggara Telekomunikasi (APJATEL) Jerry Mangansas Swandy menyampaikan bahwa pelaku industri tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik meski biayanya bisa naik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di wilayah Timur Tengah.

"Kita secara industri akan tetap membangun. Kalau berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo nomor 5 tahun 2021 ada komitmen di sana bahwa penyelenggara jaringan itu harus menggelar jaringan," kata Jerry dalam wawancara cegat di Jakarta Selatan, Kamis.

"Cuma sekarang penggelaran jaringan itu tidak dalam kondisi normal lagi karena ada indikator-indikator yang mempengaruhinya," ia menambahkan.

Jerry mencontohkan, bahan baku penting dalam penggelaran fiber optik seperti corning dan High Density Polyethylene​​​​​​​ (HDPE) naik akibat perang.

Menurut dia, corning harganya meningkat karena selain dibutuhkan untuk penggelaran jaringan telekomunikasi juga digunakan dalam pembuatan senjata.

Harga HDPE, yang digunakan sebagai pembungkus kabel fiber optik, juga meningkat.

"HDPE itu penutup fiber optik. HDPE bisa dilihat di lapangan ada yang warna hijau, warna merah, warna oranye. Itu HDPE. Itu naik harganya," katanya.

"Artinya secara teknikal saya sampaikan ini pasti akan terpengaruh juga," kata Jerry merujuk pada biaya penggelaran fiber optik.

Baca juga: APJATEL gagas OVC untuk menyehatkan penggelaran jaringan fiber optik

APJATEL memperkirakan biaya penggelaran jaringan fiber optik bisa naik 15 persen sampai 17 persen dari kondisi normal akibat kenaikan harga bahan baku.

Meskipun demikian, ​​​​​​​Jerry menyampaikan, anggota APJATEL tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik walaupun mungkin hasilnya lebih rendah dari target.

"Misalnya target satu tahun dari satu perusahaan dia mau gelar 50 kilometer, nah itu mungkin nantinya jadi hanya 10 kilometer saja," kata Jerry.

Kalau kondisi semakin memburuk, maka APJATEL berencana mengajukan permohonan insentif dari pemerintah agar program fiberisasi dapat tetap berjalan.

"Kalau memang misalnya nanti tidak terkendali, katakanlah menuju blackout ekonominya, ya mau enggak mau," kata Jerry.

"Kondisi ini juga pernah kita alami ketika COVID-19, kita minta insentif kala itu ke Kominfo tapi tidak menghilangkan kewajiban," katanya.

Baca juga: APJATEL akan tata kabel fiber optik di 40 kabupaten/kota pada 2026

Baca juga: DKI setop pengerjaan jaringan utilitas kabel fiber optik di Pondok Gede Raya

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |