PBSI: Daya saing atlet Indonesia meningkat meski tanpa gelar Tur Eropa

4 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mengungkapkan daya saing atlet Indonesia tetap menunjukkan perkembangan positif meskipun belum meraih gelar juara dalam rangkaian turnamen Tur Eropa 2026.

Tur Eropa yang meliputi Super 300 German Open, Super 1000 All England, dan Super 300 Swiss Open serta Orleans Masters menjadi bagian dari proses pembinaan jangka panjang, khususnya bagi para pemain muda yang mulai mendapat kesempatan tampil di level elite dunia.

“Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan, tetapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia,” kata Eng Hian dalam keterangan resmi PP PBSI, Selasa.

Selama tur Eropa, pebulu tangkis Indonesia mampu menjejak partai final melalui Alwi Farhan dan Putri Kusuma Wardani ketika tampil di Swiss Open 2026. Namun, keduanya harus mengakui keunggulan lawan masing-masing di laga puncak.

Baca juga: Alwi akui tampil antiklimaks pada final Swiss Open 2026

Alwi harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari wakil Jepang Yushi Tanaka dengan skor 18-21, 12-21. Sementara Putri Kusuma Wardani takluk dari wakil Thailand Supanida Katethong dengan skor 11-21, 15-21.

Di turnamen level Super 1000 All England, capaian terbaik Indonesia dicatatkan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang mampu melaju hingga babak semifinal.

Sementara itu, pada turnamen penutup tur yakni Orleans Masters 2026, pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana juga terhenti di semifinal. Hasil serupa diraih ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum yang langkahnya terhenti di empat besar.

Menurut Eng Hian, sejumlah pemain mampu melaju hingga fase akhir turnamen dan memberikan perlawanan ketat kepada pemain unggulan dunia.

Baca juga: PBSI tak kirim atlet ke serangkaian seri BWF di Kuba dan Brasil

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa jarak kualitas antara pemain Indonesia dan elite dunia makin tipis meskipun konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah.

“Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen krusial. Dari situ biasanya menjadi pembeda antara menang dan kalah,” ujarnya.

Eng Hian menambahkan pengalaman bertanding di turnamen besar akan menjadi modal penting dalam meningkatkan kematangan teknik maupun mental atlet.

“Hasil di tur Eropa ini akan menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya, dengan berbagai perbaikan yang akan dilakukan secara bertahap dan terukur,” katanya.

Baca juga: All England 2026 jadi proses penting bagi debut Alwi Farhan

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |