Tokyo (ANTARA) - Pemerintah Jepang mengumumkan akan mulai melepas cadangan minyak negara setara kebutuhan 30 hari mulai Kamis (27/3), guna meredam dampak lonjakan harga energi dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis Timur Tengah.
Kementerian Perindustrian Jepang pada Selasa menyatakan, total sekitar 8,5 juta kiloliter minyak akan dijual dari 11 lokasi penyimpanan di seluruh negeri.
Langkah itu menyusul pelepasan cadangan minyak swasta setara 15 hari kebutuhan yang dilakukan pekan lalu.
Selain itu, negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab juga akan melepas cadangan minyak setara lima hari kebutuhan di Jepang hingga Selasa depan, untuk disalurkan kepada perusahaan minyak Jepang.
Baca juga: Pemerintah Jepang diminta izinkan kapal asing bantu angkut minyak
Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan pemerintah Jepang akan terus melakukan diplomasi intensif dengan negara-negara terkait untuk meminimalkan dampak krisis terhadap aktivitas ekonomi.
Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya dari luar negeri, dengan lebih dari 90 persen pasokan berasal dari kawasan Timur Tengah.
Namun, sejak Iran memblokade Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari, harga minyak dunia melonjak tajam dan yen melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi di Jepang.
Harga bensin reguler di Jepang bahkan mencapai rekor tertinggi 190,80 yen (sekira Rp20.000) per liter pekan lalu. Pemerintah menargetkan menurunkan rata-rata harga nasional ke kisaran 170 yen per liter.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama menuding spekulasi pasar sebagai penyebab volatilitas harga minyak dan nilai tukar.
“Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan di berbagai sektor untuk menghadapi spekulasi tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, sektor petrokimia Jepang sudah mengalami gangguan pasokan naphtha, bahan baku penting untuk plastik dan serat sintetis.
Perusahaan-perusahaan kini mencari alternatif energi dari Amerika, Amerika Latin, dan Asia, meski harganya sangat tinggi.
Dalam pertemuan puncak di Washington pekan lalu, PM Takaichi dan Presiden AS Donald Trump menegaskan pentingnya menjaga pasokan energi global dengan memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Takaichi dijadwalkan bertemu Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol di Tokyo pada Rabu untuk membahas kerja sama menjaga stabilitas pasokan minyak.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Krisis energi: Jepang akan segera lepas cadangan minyak negara
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































