Jakarta (ANTARA) - Pakar estetika dr. Olivia Aldisa menekankan pentingnya penguasaan anatomi dan presisi energi dalam prosedur perawatan wajah guna meminimalisasi risiko komplikasi, termasuk fenomena wajah cekung atau "wajah kempot" akibat kesalahan prosedur perawatan di masa lalu.
"Banyak pasien datang dengan kondisi wajah cekung karena kesalahan prosedur sebelumnya. Penting dipahami bahwa dokter estetika tidak hanya butuh alat, tetapi harus memiliki pemahaman ilmiah mengenai bagaimana struktur wajah bereaksi terhadap energi," ujar dr. Olivia di Jakarta, Jumat.
Menurut dr. Olivia, kesalahan prosedur sering terjadi karena energi yang digunakan tidak tepat sasaran atau terfokus pada satu titik secara berlebihan. Hal ini tidak hanya memicu hilangnya volume lemak secara ireguler, tetapi juga berisiko merusak jaringan saraf dan pembuluh darah.
Baca juga: Ampas kopi: Bahan sederhana dengan segudang manfaat untuk kecantikan
Ia menjelaskan, teknologi estetika konvensional terkadang bekerja dengan prinsip panas tinggi pada satu titik yang dapat menyebabkan kematian jaringan. Sebaliknya, metode regeneratif modern kini mengedepankan keamanan dengan menargetkan lapisan dermis tengah secara horizontal.
"Dermis tengah merupakan pabrik kolagen dan elastin. Dengan menargetkan area ini pada kedalaman 1,5 milimeter menggunakan suhu yang optimal, kulit terstimulasi untuk beregenerasi secara alami tanpa harus mencederai jaringan lemak atau saraf di bawahnya," ujar dr. Olivia.
Dr. Olivia menyebutkan bahwa produksi kolagen alami pada manusia mulai menurun sejak usia 25 tahun, bahkan dapat berkurang hingga 30 persen pada lima tahun pertama masa menopause bagi wanita. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat beralih dari prosedur yang menjanjikan hasil instan bersifat destruktif menuju metode stimulasi kolagen yang bertahap.
"Perawatan ini seperti investasi jangka panjang; hasilnya akan terakumulasi dari tahun ke tahun jika dilakukan dengan prosedur yang tepat," tambahnya.
Selain aspek teknologi, ia juga menyoroti pentingnya gaya hidup sehat untuk mendukung kualitas kulit. Ia menyarankan wanita berusia 40 tahun ke atas untuk rutin melakukan latihan beban (strength training) guna membantu menjaga keseimbangan hormonal dan kualitas jaringan tubuh.
Di akhir paparannya, dr. Olivia mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih klinik dan praktisi estetika. Menurutnya, kualitas sebuah perawatan bukan sekadar dilihat dari nominal harga, melainkan dari prosedur keamanan serta kompetensi dokter dalam mendiagnosis kebutuhan struktur wajah pasien secara personal.
"Diagnosis klinis yang akurat oleh praktisi yang memahami anatomi wajah adalah syarat mutlak untuk menghindari komplikasi jangka panjang," ujar dr.Olivia.
Baca juga: Wardah tingkatkan penjualan produk skincare di bulan Ramadhan
Baca juga: Ini keunggulan hybrid sunscreen untuk kulit dan rekomendasi produknya
Baca juga: Ini efek buruk jika alat makeup tak dibersihkan
Pewarta: Ida Nurcahyani/Vina Ashari
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































