Jakarta (ANTARA) - Komunitas seni Betawi Oplet Robet terus berupaya menghadirkan pertunjukan budaya yang lebih modern guna menarik minat masyarakat tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitasnya.
Pendiri Oplet Robet Ramdhani Qubil AJ atau Bang Qubil mengatakan komunitas tersebut memiliki mimpi untuk meningkatkan kualitas pertunjukan seni Betawi melalui pengemasan yang lebih kreatif dan mengikuti perkembangan zaman.
“Kita kepengin kesenian Betawi naik grade dengan tata cahaya, artistik, dan sebagainya,” kata Bang Qubil usai pertunjukan Lenong Kampung Te-Ko dalam rangka perayaan HUT ke-499 Jakarta di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, kesenian tradisional harus terus berkembang agar tetap relevan bagi generasi masa kini. Namun, inovasi tersebut tidak boleh menghilangkan unsur budaya yang menjadi fondasinya.
Baca juga: Oplet Robet: HUT Jakarta jadi momentum merawat budaya Betawi
“Kesenian itu bukan kitab suci, harus berkembang, harus berinovasi. Tapi tetap akarnya kita nggak bisa buang, akar budaya Betawinya tetap,” ujarnya.
Ia mencontohkan musik Gambang Kromong yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan Betawi harus tetap dipertahankan meski dikemas dengan pendekatan yang lebih modern.
Bang Qubil mengatakan Oplet Robet berupaya menunjukkan bahwa budaya Betawi tidak identik dengan sesuatu yang kuno dan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi maupun kebutuhan penonton saat ini.
“Mimpi Oplet Robet bagaimana bikin pertunjukan Betawi itu kalau bisa lima dimensi. Biar orang juga tahu bahwa Betawi bisa berkembang dan mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Oplet Robet berencana menggelar pentas tunggal pada Oktober mendatang di Gedung Kesenian Jakarta dengan konsep produksi yang lebih matang dari sisi artistik maupun tata panggung.
Ia berharap inovasi yang dilakukan komunitas seni dapat mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk semakin mengenal dan mengapresiasi budaya Betawi.
“Jangan dibilang Betawi itu jadul. Betawi juga bisa berkembang, bisa mengikuti perkembangan zaman dengan tidak melupakan akar budayanya,” ujar Bang Qubil.
Baca juga: Sanggar seni Betawi untuk lestarikan budaya Betawi
Baca juga: DKI punya Balai Budaya Condet untuk lestarikan tradisi
Baca juga: Kampung Budaya Betawi Sukapura jadi ruang pelestarian budaya
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































