Jakarta (ANTARA) - Musyawarah Kubro yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo dan dihadiri para Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) serta jajaran PBNU, PWNU, dan PCNU yang menekankan islah antara Ketua Umum dan Rais Aam PBNU mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Salah satu dukungan tersebut lahir dari Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKBN-NU), mengingat konsistensi para ulama sepuh dalam menggelar forum-forum musyawarah menunjukkan keseriusan dalam mencari jalan keluar atas persoalan jamiyah NU secara arif dan bermartabat.
“Forum ini menegaskan bahwa tidak semua solusi atas problem NU berada di ranah struktural. Wilayah kultural tetap memegang peran yang sangat vital,” ujar inisiator GKBN-NU, Hery Haryanto Azumi di Jakarta, Senin.
Baca juga: Ketika warga NU dan santri terjebak dalam pusaran rasa cangkolang
Hery menilai forum tersebut sebagai langkah penting dan patut diapresiasi, terlebih karena menjadi kelanjutan dari rangkaian pertemuan ulama sebelumnya di Ploso dan Tebuireng.
Tokoh Muda NU itu menekankan ke depan reformasi organisasi NU harus berjalan seiring dengan penguatan gerak kultural, dimana ulama menjadi kunci arah dan keputusan strategis, serta ditopang oleh generasi muda NU yang telah bertransformasi secara intelektual di berbagai bidang.
Hery menyoroti sikap para ulama yang dinilainya sangat bijaksana. Di satu sisi, mereka tetap mengedepankan prinsip ishlah (perdamaian dan perbaikan) meskipun prosesnya tidak mudah dan penuh tantangan.
Namun, para ulama juga menunjukkan ketegasan dengan menetapkan batas waktu 3 x 24 jam sebelum diambil keputusan penting terkait mandat Rais ‘Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah.
Sikap tersebut, kata Hery, sejalan dengan pernyataan yang sebelumnya disampaikan oleh Gerakan Kebangkitan Baru NU.
Gerakan ini mendorong agar Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU menyerahkan mandat kepada Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWAQ) demi menyelamatkan jamiyah (organisasi) dan jamaah (warga) NU.
Baca juga: Gus Yahya siap jalankan putusan Mustasyar yang tekankan islah
Baca juga: Forum Musyawarah Kubro desak kedua belah di PBNU islah
“Krisis ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jika terus berlanjut, potensi dualisme kepemimpinan akan menjadi ancaman serius yang dapat menghancurkan NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial terbesar di Indonesia,” kata dia.
GKBN-NU menyerukan kepada seluruh jajaran PBNU, PWNU, PCNU, serta seluruh badan otonom dan lembaga NU untuk mendengarkan suara warga Nahdliyyin yang pada dasarnya tidak menginginkan perpecahan di tubuh organisasi.
Menurut Hery, sumber-sumber persoalan harus segera diurai dan diselesaikan secara menyeluruh.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































