Musim kemarau dan karhutla: Kenapa lahan lebih mudah terbakar?

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Di Kalimantan, pemerintah memperkuat penanganan setelah peningkatan aktivitas kebakaran dan titik panas di sejumlah wilayah. Presiden Prabowo Subianto juga pada Senin (24/8) bertolak ke Riau untuk meninjau langsung penanganan karhutla di Sumatra.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Agustus 2026. Curah hujan kategori rendah juga mendominasi sebagian besar wilayah.

BMKG juga menyebut El Nino yang berada pada kategori sangat kuat turut membuat kondisi kering semakin perlu diwaspadai. Situasi tersebut membuat musim kemarau dan karhutla sering kali berjalan beriringan. Namun, mengapa lahan yang kering lebih mudah terbakar?

1. Vegetasi menjadi lebih kering

Ketika hujan jarang turun, tanaman, rumput, daun, ranting, dan berbagai material organik di permukaan tanah kehilangan kandungan air.

Material yang kering tersebut kemudian lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api. Api yang muncul juga dapat menyebar lebih cepat karena tersedia cukup banyak bahan bakar di sekitarnya.

Jadi, musim kemarau sebenarnya tidak secara langsung menciptakan api. Kemarau membuat kondisi lingkungan menjadi lebih mudah terbakar ketika ada sumber penyalaan.

2. Tanah kehilangan kelembapan

Bukan hanya tumbuhan yang menjadi kering. Tanah juga dapat kehilangan banyak kandungan air selama periode tanpa hujan yang cukup panjang.

Semakin kering kondisi lahan, semakin besar risiko kebakaran berkembang dengan cepat. Hal ini terutama menjadi perhatian di wilayah yang memiliki lahan gambut.

Lahan gambut dalam kondisi alami menyimpan banyak air. Namun, ketika muka air tanah turun dan gambut mengering, material organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar.

Baca juga: Dishut sebut kondisi karhutla di Fakfak mencapai 2.171,35 hektare

3. Api lebih mudah menyebar

Kondisi kering membuat api lebih mudah berpindah dari satu vegetasi ke vegetasi lainnya.

Daun kering, rumput, semak, dan ranting dapat menjadi bahan bakar yang membantu api bergerak. Jika ditambah angin yang cukup kuat, penyebaran api bisa berlangsung lebih cepat.

Dalam pemantauan karhutla di Kalimantan dan Sumatra pada Agustus 2026, BNPB juga mencatat perubahan arah angin yang dapat mendorong penyebaran asap melintasi wilayah, bahkan hingga melewati batas negara.

4. Sumber air untuk pemadaman bisa berkurang

Musim kemarau juga dapat membuat sumber air di sekitar lokasi kebakaran menjadi lebih terbatas.

Ketika sungai, kanal, kolam, atau sumber air lainnya mengalami penurunan debit, proses pemadaman dapat menjadi lebih menantang. Petugas membutuhkan sumber air yang cukup untuk mendinginkan area terbakar dan memastikan api tidak kembali menyala.

Tantangan tersebut semakin besar jika kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau.

5. Lahan gambut menjadi sangat rentan

Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem yang paling perlu diperhatikan selama musim kemarau.

Gambut yang tetap basah relatif sulit terbakar. Sebaliknya, ketika kandungan airnya turun terlalu jauh, lapisan organik tersebut dapat menjadi bahan bakar.

Yang membuatnya lebih rumit, kebakaran gambut dapat menjalar di bawah permukaan. Kobaran api mungkin tidak terlihat dari atas, tetapi bagian bawah tanah masih menyimpan panas atau bara.

Itulah sebabnya kebakaran gambut dapat membutuhkan waktu lama untuk benar-benar dipadamkan.

Baca juga: Tim Alfa TNI diterjunkan padamkan karhutla di Way Kambas

6. Aktivitas manusia menjadi pemicu

Kemarau memang meningkatkan risiko kebakaran, tetapi api tetap membutuhkan sumber penyalaan.

Sumber tersebut dalam banyak kejadian dapat berasal dari aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar atau kelalaian ketika menggunakan api.

Kondisi kering kemudian membuat api yang awalnya kecil lebih mudah berkembang menjadi kebakaran yang luas. Polisi pada Agustus 2026 bahkan menetapkan puluhan tersangka dalam kasus karhutla di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Artinya, hubungan antara kemarau dan karhutla bukan berarti setiap musim kemarau pasti terjadi kebakaran. Faktor manusia tetap memiliki peran besar dalam menentukan apakah sumber api muncul atau tidak.

7. El Nino dapat memperkuat kondisi kering

Fenomena El Nino juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Secara sederhana, El Nino dapat mengubah pola cuaca Indonesia sehingga sejumlah wilayah mengalami kondisi yang lebih kering dan curah hujan yang lebih rendah. Jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, kondisi lahan dapat menjadi semakin kering.

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September, dengan Agustus menjadi bulan puncak bagi wilayah terluas.

Pada kondisi seperti ini, kewaspadaan terhadap karhutla perlu ditingkatkan, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kebakaran dan lahan yang mudah terbakar.

Baca juga: Waspadai serangan asma akut bagi penderita asma hadapi asap karhutla

Kenapa kebakaran sering meningkat saat kemarau?

Jika disederhanakan, hubungannya dapat digambarkan seperti ini: kemarau membuat lingkungan lebih kering, sedangkan sumber api menjadi pemicu kebakaran.

Ketika vegetasi dan tanah memiliki kadar air tinggi, api lebih sulit menyala dan menyebar. Sebaliknya, ketika kondisi lingkungan sangat kering, material seperti rumput, daun, semak, dan gambut menjadi lebih mudah terbakar.

Itulah mengapa periode kemarau sering menjadi masa yang membutuhkan kewaspadaan ekstra terhadap karhutla.

Data BMKG menunjukkan kondisi tersebut sedang terjadi di Indonesia pada Agustus 2026. Selain sebagian besar wilayah telah memasuki kemarau, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.

Baca juga: Hutan terbakar, perlu reboisasi atau penghijauan? Ini bedanya

Tidak semua kebakaran disebabkan oleh kemarau

Meski memiliki hubungan erat, musim kemarau bukan penyebab tunggal karhutla.

Api tetap membutuhkan sumber penyalaan. Faktor manusia, kondisi lahan, pengelolaan tata air, vegetasi, angin, hingga karakteristik wilayah semuanya dapat memengaruhi terjadinya dan meluasnya kebakaran.

Karena itu, mengatasi karhutla tidak cukup hanya dengan menunggu musim hujan datang. Pencegahan sumber api dan pengawasan kawasan rawan juga penting dilakukan.

Kondisi terbaru di Kalimantan menjadi salah satu contohnya. Pemerintah memperkuat operasi terpadu melalui pemadaman darat dan dukungan udara untuk mengendalikan kebakaran di wilayah yang menjadi prioritas.

Musim hujan bukan satu-satunya solusi

Hujan memang dapat membantu membasahi lahan dan memadamkan api, tetapi datangnya musim hujan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan karhutla.

Pada lahan gambut, misalnya, air hujan perlu cukup untuk mengembalikan kelembapan tanah. Sementara pada kawasan yang sudah rusak, pemulihan ekosistem juga membutuhkan waktu.

Karena itu, pencegahan selama musim kemarau tetap menjadi langkah penting. Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, sementara pemerintah dan petugas terus melakukan pemantauan terhadap wilayah rawan.

Pada akhirnya, hubungan antara musim kemarau dan kebakaran hutan bukan sekadar soal panas atau tidaknya cuaca. Kemarau menciptakan kondisi lingkungan yang lebih mudah terbakar, sementara keberadaan sumber api menentukan apakah kondisi tersebut berubah menjadi kebakaran.

Dengan memahami hubungan tersebut, kewaspadaan dapat ditingkatkan sebelum api muncul. Sebab, ketika kebakaran sudah meluas, dampaknya bukan hanya kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga asap, gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, hingga potensi gangguan aktivitas masyarakat.

Baca juga: Dudung: Penanganan karhutla harus cepat dan tegas

Baca juga: BMKG ingatkan kualitas udara Pekanbaru berbahaya karena kabut asap

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |