Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyeru para jurnalis untuk menghadirkan karya jurnalistik dengan data dan rasa.
"Mari kita kembalikan karya-karya dengan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata," katanya dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes" yang digelar di Jakarta pada Jumat.
Dia mengemukakan bahwa digitalisasi memudahkan jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik yang menghadirkan empati dengan dukungan data.
Menkomdigi juga mengingatkan para jurnalis untuk mengedepankan etika jurnalistik dalam berkarya.
Ia berharap sosok pahlawan nasional Roehana Koeddoes, wartawan perempuan pertama di Indonesia, bisa menjadi inspirasi bagi para jurnalis untuk menghadirkan karya-karya jurnalistik berkualitas.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar juga menyampaikan pentingnya penerapan etika jurnalistik dalam menyajikan informasi kepada publik.
"Informasi apapun juga yang dilempar keluar, itu menjadi informasi publik. Namun itu tergantung dari kita untuk memastikan apa yang keluar dari sana tepat, akurat. Dan yang paling penting adalah integritas dijaga, kebenaran," katanya.
Dia berharap insan pers Indonesia menghadirkan karya-karya jurnalistik dengan hati seperti Roehana Koeddoes.
"Yang penting adalah tongkat kebenaran itu selalu ada dan berbasiskan hati dengan niat yang baik," katanya.
Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884 dan meninggal dunia pada usia 87 tahun di Jakarta pada 17 Agustus 1972.
Perempuan yang memulai kiprah jurnalistik di surat kabar Poetri Hindia pada 1908 dan kemudian menerbitkan surat kabar Sunting Melayu itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2019.
Baca juga: Menkum: Karya jurnalistik akan masuk dalam revisi UU Hak Cipta
Baca juga: Wamenkomdigi dorong pers dan industri media cari model bisnis baru
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































