Mengubek barang "made in China" di supermarket raksasa Yiwu

21 hours ago 4
Yiwu pun menjadi contoh dari apa yang disebut oleh Jake Sullivan dalam artikelnya di jurnal Foreign Policy edisi Mei–Juni 2026 sebagai strategi China dalam menerjemahkan kemajuan teknologi menjadi kapabilitas yang dapat diterapkan secara luas, baik d

Beijing (ANTARA) - Sudah menjadi anggapan umum bahwa berbagai barang kecil seperti gantungan kunci, magnet kulkas, gelas, boneka, aksesori, atau aneka cendera mata yang muat dalam genggaman tangan berasal dari China alias "made in China".

Walau kini China telah memperluas kapasitas produksinya ke berbagai produk berteknologi tinggi, mulai dari peralatan elektronik rumah tangga, kendaraan listrik, hingga robot, komoditas kecil buatan Negeri Tirai Bambu tetap menjadi primadona dan dipasarkan ke berbagai negara.

Namun, tahukah Anda di mana tempat untuk mencari barang-barang kecil yang menarik sekaligus murah tersebut di China? Jawabannya ada di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, di bagian timur China.

Di Yiwu, terdapat pusat perbelanjaan barang kecil yang disebut "Yiwu International Trade City" seluas 4 juta meter persegi atau sekitar 5–6 kali luas Gelora Bung Karno dengan lebih dari 70.000 kios, 400 ribu jenis produk dengan 2.000 kategori berbeda.

"Jika Anda menghabiskan tiga menit di setiap toko dan mengunjungi pasar selama delapan jam setiap hari, Anda akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk mengunjungi seluruh toko,” kata seorang pemandu wisata kepada ANTARA saat berkunjung ke lokasi itu pada akhir Mei 2026.

Sebanyak 65 persen produk dari pusat perdagangan tersebut diekspor ke lebih dari 215 negara dan wilayah. Selain itu, lebih dari 90 persen toko menjual barang langsung dari produsen sehingga harga yang ditawarkan merupakan harga pabrik. Namun, pembeli umumnya harus membeli dalam jumlah besar karena barang tidak dijual secara eceran.

Karena itu tidak mengherankan bila masuk ke supermarket raksasa itu, banyak orang asing datang, bahkan sejak pagi sekitar pukul 09.00 saat mal mulai dibuka. Pedagang-pedagang yang ada di sana pun mampu memahami bahasa Inggris, setidaknya angka-angka saat melakukan tawar-menawar dengan pembeli.

Salah satu toko di "Yiwu International Trade Market" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pusat perbelanjaan di Yiwu itu pertama dimulai pada 1960-an sebagai pasar tempat masyarakat menukarkan permen dengan bulu ayam, satu tradisi lokal untuk bertahan hidup.

Kala itu, Yiwu hanyalah sebuah wilayah kecil yang tersembunyi di kawasan pegunungan. Sebagian besar lahannya tandus sehingga tidak banyak pilihan mata pencaharian bagi penduduknya. Kondisi tersebut mendorong masyarakat setempat untuk mencari nafkah melalui perdagangan. Lambat laun, Yiwu berkembang menjadi titik pertemuan antara para produsen dari berbagai daerah dengan pembeli yang datang dari lokasi berbeda.

Perkembangan tersebut mencapai tonggak penting pada September 1982 dengan dibukanya Pasar Terbuka Huqingmen. Pasar pinggir jalan dan terbuka itu memiliki 705 kios dan menawarkan lebih dari 2.200 barang. Saat itu penjual belum punya kios tetap sehingga mereka harus datang lebih pagi untuk merebut kios paling strategis.

Renovasi pasar kemudian dilakukan beberapa tahap hingga pindah ke lokasi saat ini yaitu di Futian dengan pembangunan dari tahun 2002-2017 hingga disebut sebagai "Pasar Grosir Komoditas Kecil Terbesar di Dunia" dan meluncurkan "platform" AI untuk menerjemahkan video promosi ke lebih dari 30 bahasa.

Baca juga: Jelang Piala Dunia 2026, merchandise dari Yiwu diminati pasar global

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |