Surabaya (ANTARA) - "Pak, buat apa belajar Malin Kundang? Kan kita semua sudah tahu ceritanya." Kalimat itu meluncur ringan dari bangku belakang sebuah kelas 7 sekolah menengah pertama (SMP). Tidak ada nada mengejek, tidak pula terdengar ketus. Ia hanyalah sebuah pertanyaan jujur yang lahir dari cara pandang generasi yang tumbuh bersama media sosial, dan kini, kecerdasan artifisial (AI).
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya sedang menyingkap sebuah pergeseran kultural yang masif di ruang-ruang kelas Indonesia. Generasi yang kini duduk di bangku sekolah bukanlah generasi yang kekurangan cerita. Mereka justru sedang tenggelam dalam lautan narasi global.
Dalam hitungan jam, jemari mereka sanggup melompati puluhan konten video pendek, mengonsumsi serial animasi mancanegara, hingga berdialog dengan platform AI yang sanggup menjawab beragam pertanyaan dalam sekejap.
Baca juga: Menulis di era AI: Dari kegelisahan ke kelancaran gagasan
Di tengah banjir narasi tersebut, cerita rakyat Indonesia perlahan kehilangan ruang hidupnya. Bukan karena kisah-kisah, seperti Malin Kundang, Timun Mas, atau Bawang Merah Bawang Putih, tidak lagi bernilai. Bukan pula karena generasi muda kehilangan rasa cinta pada tanah airnya. Masalahnya jauh lebih mendasar: dunia pendidikan kita masih sering mengajarkan cerita dari abad ke-16 dengan metode abad ke-20 kepada anak-anak abad ke-21.
Sastra dan AI
Di banyak ruang kelas, pengajaran sastra lokal kerap terjebak pada rutinitas yang mekanis. Siswa diminta membaca teks di buku ajar, mengidentifikasi tokoh dan alur, mencatat pesan moral untuk hafalan ujian, lalu menutup buku tatkala bel sekolah berbunyi.
Pembelajaran sastra bergeser dari pengalaman yang seharusnya dihayati menjadi sekadar kewajiban kurikulum yang hanya butuh untuk selesai. Hal yang tertinggal pada akhirnya hanyalah angka di lembar rapor yang mereka sebut nilai, bukan nilai-nilai karakter yang mengendap dalam sanubari.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































