Legislator DKI nilai penanganan ikan sapu-sapu harus terintegrasi

4 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengambil langkah konkret dan terintegrasi dalam menangani ikan sapu-sapu di perairan ibu kota.

Menurut dia, penanganan ikan tersebut tidak cukup hanya dengan penangkapan massal, tetapi harus dibarengi dengan perbaikan kualitas air.

"Kita butuh solusi yang tidak hanya reaktif, tapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan," kata Kenneth di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan maraknya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah aliran kali di Jakarta bukan sekadar persoalan biasa, melainkan sinyal kuat adanya kerusakan ekosistem perairan yang semakin mengkhawatirkan.

Pria yang akrab disapa Bang Kent itu pun mengungkapkan ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus merupakan spesies invasif yang justru dapat berkembang pesat di lingkungan perairan yang tercemar. Kondisi ini mencerminkan kualitas air di sungai-sungai Jakarta masih jauh dari kata baik.

Perbaikan kualitas air, kata Kent, dapat dilakukan melalui pengendalian limbah domestik dan industri, peningkatan sistem sanitasi, serta edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Selain itu, dia juga membuka peluang adanya pendekatan inovatif dan kolaboratif, seperti pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai ekonomi, dengan catatan didukung dengan kajian ilmiah yang ketat dari sisi kesehatan dan keberlanjutan.

Baca juga: DKI catat 6,98 ton ikan sapu-sapu ditangkap dari operasi lima wilayah

Dia pun menegaskan persoalan sungai merupakan tanggung jawab bersama. Jika Jakarta ingin menjadi kota global yang berdaya saing, maka pengelolaan lingkungan, khususnya sungai, harus menjadi prioritas utama.

"Saya secara konsisten terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pemulihan ekosistem sungai. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga bagi masa depan Kota Jakarta dan warganya," ujar Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menuturkan operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu merupakan strategi jangka pendek yang saat ini tengah digencarkan untuk menekan populasi ikan tersebut sekaligus mencegah penyebaran yang lebih luas di perairan Jakarta.

"Sebagai langkah penanganan awal, kami melakukan operasi penangkapan massal. Hasil tangkapan ditangani dengan cara dikubur dalam kondisi mati untuk mencegah dampak lanjutan terhadap lingkungan," tutur Hasudungan.

Selain itu, sambung dia, pendekatan berbasis riset juga mulai dilakukan. Sebanyak 1.000 kilogram ikan sapu-sapu hasil tangkapan dari kawasan Setu Babakan dimanfaatkan sebagai bahan penelitian oleh Balai Riset Budidaya Ikan Hias Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dia menyebutkan penelitian itu difokuskan pada pengembangan media kultur budidaya maggot, yang dinilai memiliki potensi sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan limbah organik sekaligus alternatif pakan bernilai ekonomi.

"Ini menjadi salah satu upaya agar penanganan tidak hanya bersifat penanggulangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui riset dan inovasi," imbuh Hasudungan.

Baca juga: Tak hanya ikan, telur sapu-sapu juga jadi target pembersihan di Jakpus

Baca juga: Pemkot Jaktim gencarkan edukasi bahaya konsumsi ikan sapu-sapu

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |