Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengakselerasi pengembangan bioetanol nasional dengan menyiapkan pembangunan pabrik di Lampung, sebagai bagian dari kerja sama strategis dengan mitra Jepang yakni Toyota, guna memperkuat bauran energi terbarukan
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu di Jakarta, Senin menyampaikan, pada hari ini pihaknya melakukan pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda untuk membahas lebih lanjut terkait proyek tersebut.
Pertemuan ini pula katanya, merupakan tindak lanjut dari komunikasi intensif yang telah terjalin sejak tahun lalu, termasuk saat kunjungan ke Tokyo dan agenda kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Jepang.
“Tentunya ini adalah tindak lanjut yang kedua kali. Sebelumnya waktu itu tahun kemarin kami ada ke Tokyo bertemu dengan Mr. Maeda,” ujar Todotua.
Ia menjelaskan, bioetanol merupakan salah satu komponen penting dalam transisi energi nasional, mengingat pemerintah menargetkan pengembangan energi ini untuk mendukung kebijakan mandatori campuran bahan bakar, termasuk rencana penerapan E10.
“Etanol ini adalah salah satu energi bauran terbarukan yang kita rencanakan untuk develop. Pemerintah sudah menetapkan kita maksimal mandatori di tahun 2028,” katanya.
Dijelaskan dia, berbeda dengan biodiesel yang berbasis minyak sawit (CPO), bioetanol memiliki sumber bahan baku (feedstock) yang lebih beragam, seperti tebu, singkong, sorgum, hingga aren.
Keunggulan ini dinilai dirinya dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang pengembangan sektor pertanian.
Dalam tahap awal, proyek ini akan diwujudkan melalui pembangunan pabrik bioetanol di Lampung, yang dinilai memiliki ketersediaan bahan baku melimpah. Selain itu, akan dilakukan pengembangan perkebunan sebagai bagian dari penguatan pasokan feedstock.
“Rencananya ini akan dilakukan untuk pertama kali pembangunan plan bioetanolnya itu di wilayah Lampung. Kenapa Lampung? Karena Lampung adalah salah satu provinsi yang sangat kuat untuk feedstock supply-nya terhadap etanol ini,” jelas Todotua.
Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pertamina New Renewable Energy dengan mitra Jepang, di mana Toyota Tsusho direncanakan menjadi partner.
Selain itu, dukungan riset dan pengembangan akan melibatkan lembaga dari Jepang yang juga mendapat dukungan pemerintah setempat.
Ia menyampaikan pembangunan pabrik ditargetkan mulai pada kuartal III hingga kuartal IV 2026, dengan kapasitas awal sekitar 60 ribu kiloliter per tahun. Pemerintah menargetkan fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi paling lambat pada 2028.
“Kalau berjalan sih seharusnya maksimal 2028 sudah bisa produksi,” ujarnya.
Disampaikan Todotua pula, pada dasarnya kendaraan Toyota sudah mampu menggunakan etanol hingga 100 persen, tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan harga ke depan.
Baca juga: ESDM: Konflik di Timteng jadi momentum RI akselerasi transisi energi
Baca juga: Kementan perkuat hilirisasi pertanian untuk biofuel dan bioetanol
Baca juga: Bioetanol, simpul strategis energi dan peluang perdagangan
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































