Pontianak (ANTARA) - Malam turun perlahan di Kota Singkawang. Langit yang semula jingga berangsur gelap, digantikan gemerlap cahaya yang menggantung rapi di sepanjang ruas jalan utama kota.
Lampion-lampion merah berderet memanjang, bergoyang pelan tertiup angin laut. Cahayanya memantul lembut ke wajah ribuan warga yang memadati sudut-sudut kota, anak-anak yang bertengger di bahu orang tuanya, remaja yang sibuk mengabadikan momen dengan gawai, hingga para lansia yang duduk tenang menikmati suasana.
Namun malam itu, Singkawang menghadirkan pemandangan yang berbeda. Lampion tak hanya berbentuk bulat merah khas perayaan Imlek. Di antaranya, tergantung lampion berbentuk bintang dan anyaman ketupat, ornamen yang lekat dengan nuansa Islam.
Perpaduan simbol dua tradisi itu membentuk lanskap cahaya yang unik: merah keemasan berdampingan dengan hijau lembut, menyiratkan pesan kebersamaan tanpa kata.
Malam itu, di awal Maret 2026, ribuan warga lokal dan wisatawan tumpah ruah di sejumlah ruas jalan protokol. Mereka berdiri berjejal di balik pembatas, sabar menanti dimulainya Pawai Lampion Cap Go Meh. Pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli, aroma jajanan bercampur dengan udara malam yang hangat, sementara riuh percakapan mengisi ruang-ruang terbuka kota.
Di saat yang sama, dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun syahdu dari masjid-masjid. Umat Muslim tengah menunaikan salat tarawih, khusyuk dalam ibadah Ramadhan.
Tak ada yang merasa terganggu. Tak ada yang merasa didahulukan semua berbaur dalam harmoni dua perayaan keagamaan yang sakral dan sama-sama dinantikan oleh masyarakat Muslim dan Tiong Hua di Kota Singkawang.
Di kota yang berulang kali dikenal sebagai ruang hidup toleransi, perayaan Cap Go Meh 2026 dan bulan suci Ramadhan bukanlah dua momentum yang saling bersaing memperebutkan ruang publik. Keduanya justru saling memberi tempat, saling menghormati ritme keyakinan masing-masing.
Panitia menunda sejenak perayaan, menunggu umat muslim menuntaskan ibadah Tarawih mereka. Dan warga memahami situasi itu sebagai bentuk penghormatan.
Percakapan melambat, suasana menunggu menjadi hening yang hangat. Setelah tarawih usai, barulah lampion-lampion dinyalakan serentak, memecah gelap dengan semburat cahaya yang memikat.
Festival pun dimulai. Sorak warga pecah, kamera-kamera terangkat, dan malam Singkawang berubah menjadi lautan cahaya. Harmoni terasa nyata, bukan dalam slogan, melainkan dalam sikap yang saling menjaga.
Pawai lampion dan bukber akbar
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































