Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Syariah membukukan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 51,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp52,72 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp79,97 miliar pada kuartal I 2026.
Peningkatan kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp191,60 miliar, meningkat lebih dari 20 persen (yoy).
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari fokus perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional.
“Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem,” kata Hanie.
Baca juga: Bank Mega Syariah: Pembiayaan emas positif di tengah tingginya minat
Per akhir Maret 2026, total penyaluran pembiayaan perseroan tercatat lebih dari Rp9,26 triliun, atau tumbuh lebih dari 7,2 persen dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar Rp8,64 triliun.
Sejalan dengan itu, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perseroan mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Perseroan menyatakan, pihaknya terus memperkuat bisnis pembiayaan yang tercermin dari pertumbuhan pendapatan berbasis piutang dan bagi hasil.
Pendapatan dari piutang meningkat menjadi lebih dari Rp118 miliar atau tumbuh sekitar 40,9 persen (yoy). Sementara itu, pendapatan bagi hasil juga mengalami kenaikan tumbuh sekitar 4,7 persen (yoy) atau menjadi lebih dari Rp114,73 miliar.
Baca juga: Bank Mega Syariah himpun DPK Rp709 miliar selama Ramadhan 2026
Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mega Syariah menyampaikan pihaknya secara konsisten melakukan optimalisasi struktur pendanaan guna menjaga efisiensi biaya dana.
Strategi ini turut berkontribusi terhadap peningkatan margin, tercermin dari kenaikan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85 persen dari sebelumnya 4,04 persen.
Selain itu, efisiensi operasional juga menunjukkan perbaikan dengan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menjadi 76,90 persen dari sebelumnya 85,08 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, permodalan bank tetap kuat dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 27,63 persen. Perseroan juga tetap mencermati dinamika risiko pembiayaan.
Baca juga: Bank Mega Syariah: Fluktuasi harga emas jadi peluang “buy the dip”
“Ke depan, kami akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan. Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun,” tutup Hanie.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































