Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I 2026 menjadi modal awal positif untuk menjaga momentum, dengan penguatan investasi dan aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.
"Untuk pertumbuhan 5,61 persen di Q1-2026, angkanya memang terlihat kuat. Bahkan bisa dibilang di atas ekspektasi," kata Yusuf dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, ia menyampaikan jika dilihat lebih dalam, terdapat beberapa faktor yang bersifat sementara dan terkonsentrasi pada awal tahun.
Ia mencontohkan Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh penuh di kuartal pertama, sehingga dorongan konsumsi langsung terpusat pada periode tersebut.
Selain itu, belanja pemerintah yang cukup kuat di awal tahun serta basis perbandingan tahun lalu yang relatif rendah turut menopang capaian pertumbuhan tersebut.
"Jadi wajar kalau angkanya terlihat tinggi. Artinya, untuk keberlanjutan kita perlu sedikit lebih hati-hati. Apalagi secara kuartalan sebenarnya ekonomi sempat terkontraksi. Itu sinyal bahwa momentumnya tidak sekuat yang terlihat di angka tahunan," ujarnya.
Ke depan, ia menilai tantangan tetap perlu diantisipasi, terutama dari tekanan eksternal seperti harga energi global dan nilai tukar yang masih lemah.
Jika kondisi tersebut berlanjut, dampaknya dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan.
Karena itu, kata dia, capaian pada kuartal I ini dinilai sebagai modal awal yang baik untuk menjaga pertumbuhan dalam kisaran target tahunan.
Menurutnya, dorongan pada kuartal berikutnya perlu mulai ditopang oleh investasi dan aktivitas ekonomi yang lebih struktural, tidak lagi bergantung pada faktor musiman.
Ia menambahkan data investasi sebenarnya cukup positif dan perlu terus dijaga momentumnya melalui percepatan proyek, kepastian regulasi, serta iklim usaha yang kondusif agar sektor swasta terus berekspansi.
Di sisi lain, perhatian terhadap daya beli dan lapangan kerja juga menjadi penting, mengingat konsumsi pada kuartal I banyak dipengaruhi faktor musiman seperti THR dan belanja Lebaran yang bersifat sementara.
Sementara itu, dari sisi industri mulai terlihat adanya tekanan, tercermin dari indikasi awal PMI manufaktur yang berada di bawah level ekspansif, padahal sektor ini berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja formal.
Dengan demikian, pemerintah perlu menjaga agar tekanan di sektor riil tidak berlanjut, sekaligus mengantisipasi risiko inflasi dan nilai tukar, serta dinamika ekspor-impor agar stabilitas ekonomi tetap terjaga ke depan.
"Untuk risiko, yang paling perlu dijaga menurut saya tetap kombinasi inflasi dan nilai tukar. Saat ini inflasi memang masih terkendali, tapi tekanan biaya di level produsen sudah mulai naik. Biasanya ini akan muncul ke harga konsumen dengan jeda waktu," tuturnya.
Di sisi lain, tambah Yusuf, pelemahan rupiah membuat biaya impor ikut naik, terutama untuk bahan baku dan energi. Hal itu perlu diantisipasi karena bisa menekan daya beli sekaligus menambah beban dunia usaha.
"Di luar itu, ada juga tekanan dari sisi eksternal. Kinerja ekspor mulai melambat sementara impor meningkat, sehingga kontribusi ke pertumbuhan tidak sekuat sebelumnya. Ini bisa berdampak ke neraca eksternal dan pada akhirnya kembali ke stabilitas nilai tukar," katanya.
Terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp3.447,7 triliun, dan atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp6.187,2 triliun.
"Ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Selasa.
Baca juga: Rosan: Investasi sumbang 32 persen pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026
Baca juga: Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 ditopang konsumsi rumah tangga
Baca juga: BPS: Ekonomi RI tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































