Moskow (ANTARA) - Krisis di Timur Tengah telah memperburuk kinerja keuangan Austrian Airlines secara signifikan, dengan maskapai tersebut menyatakan pada Selasa (4/8) bahwa kerugian operasionalnya meningkat lebih dari dua kali lipat pada paruh pertama tahun ini.
"Konflik yang berkaitan dengan Iran sangat berdampak terhadap kami akibat lonjakan tajam biaya bahan bakar jet serta keharusan membatalkan sejumlah rute. Kenaikan harga tiket hanya mampu mengimbangi sebagian dari dampak finansial tersebut hingga Juni," kata CEO Austrian Airlines Annette Mann.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa kerugian operasional maskapai meningkat sebesar 50 juta euro (Rp1 triliun) menjadi total 93 juta euro (Rp1,9 triliun) pada paruh pertama 2026 akibat krisis di Timur Tengah.
Biaya bahan bakar meningkat lebih dari 60 juta euro (Rp1,2 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun telah dilakukan strategi lindung nilai. Sementara itu, pembatalan paksa penerbangan menuju Amman, Erbil, Tel Aviv, dan Teheran menyebabkan kerugian tambahan senilai puluhan juta euro, kata maskapai tersebut.
Mann menambahkan bahwa pihak maskapai telah mengambil sejumlah langkah internal untuk meminimalkan dampak ekonomi jangka pendek semaksimal mungkin, sembari tetap mempertahankan rencana investasi jangka panjang.
Maskapai itu mengumumkan akan menghentikan penerbangan antara Wina dan Graz - ibu kota negara bagian Styria sekaligus kota terbesar kedua di Austria - mulai jadwal musim dingin, menyusul kinerja keuangan yang lemah selama bertahun-tahun.
Penerbangan menuju Tbilisi (Georgia), Keflavik (Islandia), dan Porto (Portugal) akan ditangguhkan, sementara sejumlah jadwal menginap bagi pesawat dan awak di Klagenfurt, Kopenhagen, Warsawa, dan Krakow akan dibatalkan.
Terlepas dari situasi sulit tersebut, maskapai tetap memperkirakan akan menutup tahun dengan hasil keuangan positif berkat peningkatan efisiensi serta penerusan sebagian kenaikan biaya ke dalam harga tiket.
Austrian Airlines merupakan bagian dari Lufthansa Group asal Jerman, yang pada April memutuskan memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober sebagai langkah menghadapi tingginya biaya bahan bakar penerbangan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: OECD: Pertumbuhan global bisa melambat 2,1 persen pada 2026
Baca juga: Singapura kucurkan Rp9,8 triliun bantu warga atasi gejolak energi
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































