Bengkulu (ANTARA) - Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC) Bengkulu mencatat sejak Januari awal Juni 2026 pendapatan negara dari sektor kepabeanan di wilayah Provinsi Bengkulu mencapai Rp1,8 miliar atau 2,10 persen dari target sebesar Rp85 miliar.
"Kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, capaian tahun ini jauh lebih baik. Tahun lalu kami praktis belum memperoleh penerimaan bea keluar maupun bea masuk seperti saat ini," kata Kepala KPPBC TMP C Bengkulu Nazwar, di Kota Bengkulu, Minggu.
Ia menyebut, secara tahunan realisasi penerimaan mengalami lonjakan sangat signifikan, yakni mencapai 3.863,71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Untuk target penerimaan pada 2026 sebagian besar berasal dari bea keluar komoditas batu bara, namun terkait dengan regulasi yang menjadi dasar pemungutan bea keluar tersebut belum diterbitkan, sehingga berdampak terhadap belum optimalnya realisasi penerimaan negara.
Nazwar merincikan peningkatan penerimaan terutama berasal dari bea keluar yang telah mencapai sekitar Rp1,10 miliar, penerimaan cukai yaitu Rp700 juta yang pada periode sama 2025 hanya Rp42 juta.
Meskipun demikian, saat ini KPPBC Bengkulu mencatat adanya aktivitas impor yaitu dengan dilaksanakannya lima registrasi IMEI hingga Juni 2026 terhadap barang bawaan penumpang dari luar negeri.
Ia menerangkan, penerimaan bea keluar terjadi salah satunya dikarenakan adanya aktivitas ekspor setelah revitalisasi Pelabuhan Pulau Baa,i seperti batu bara, komoditas cangkang sawit, hingga kayu olahan yang dipasarkan ke luar negeri.
"Kalau batu bara tujuan ekspornya bervariasi, ada ke Vietnam, Pakistan, dan Thailand. Sedangkan cangkang sawit sudah berhasil diekspor ke Jepang. Rencananya ekspor cangkang sawit dilakukan tiga kali, tetapi hingga Semester I baru terealisasi satu kali," sebutnya.
Nazwar mencatat hingga Juni 2026, volume ekspor mencapai 398.387,4 metrik ton, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 755,89 metrik ton dengan nilai ekspor Bengkulu sebesar Rp481,7 miliar dan komoditas utama berupa batu bara, cangkang sawit, kayu olahan, kopi, lintah, serta kepiting.
Pewarta: Anggi Mayasari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































