Jakarta (ANTARA) - Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri asal Sumatera Barat menjalin kerja sama dengan Holding Pangan BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD untuk menjajaki ekspor produk gambir ke pasar internasional.
Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Kantor Kementerian Koperasi (Kemenkop), Jakarta, Selasa.
Kerja sama ini membidik potensi pasar di India dan Pakistan dengan estimasi nilai mencapai 732.831 dolar AS (sekitar Rp11,72 miliar) dan target pengiriman 20 ton gambir per bulan.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop Destry Anna Sari menegaskan pemerintah mendorong kerja sama tersebut tidak berhenti pada tahap kesepakatan, tetapi segera masuk ke implementasi bisnis.
"Saya berharap sebelum tiga bulan langsung terjadi transaksi kontrak bisnis dan barang sudah dikirim dalam bentuk hilirisasi," ujar Destry dalam siaran pers Kemenkop.
Ia juga menyoroti tantangan utama dalam pengembangan ekspor koperasi, terutama terkait konsistensi pasokan dan kualitas produk ketika permintaan meningkat.
Menurut dia, pemerintah akan melibatkan berbagai pihak untuk memastikan standar mutu internasional dapat dipenuhi, termasuk standar keamanan pangan seperti HACCP.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan regulasi perdagangan luar negeri agar pembeli asing tidak dapat membeli bahan baku langsung dari tingkat desa, yang dinilai dapat mempengaruhi stabilitas harga di tingkat petani.
Direktur Komersial ID FOOD Dwi Sutoro menyatakan pihaknya berkomitmen memperkuat ekosistem ekspor komoditas unggulan daerah melalui jaringan distribusi dan perdagangan yang dimiliki perusahaan.
Ia menjelaskan terdapat tiga pilar utama dalam membangun ekosistem ekspor berkelanjutan, yakni keberlanjutan pasokan, konsistensi kualitas, dan daya saing harga di pasar global.
"Ke depan, ID FOOD akan mengoptimalkan kantor-kantor cabangnya di seluruh Indonesia untuk bertindak sebagai sourcing development dalam mengidentifikasi produk unggulan daerah yang siap dibawa ke pasar internasional," kata Dwi.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri Eriyanto menyebut kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani gambir di Sumatera Barat.
Koperasi yang berdiri sejak 2021 itu saat ini telah menghimpun sekitar 190 petani gambir dan delapan kelompok tani dengan total luas lahan mencapai 450 hektare. Dari konsolidasi tersebut, koperasi memiliki kapasitas produksi sekitar 30 hingga 50 ton gambir per bulan.
"MoU ini menjadi langkah penting untuk memperkuat hilirisasi gambir serta meningkatkan daya saing produk di pasar ekspor," ujarnya.
Ia menambahkan koperasinya berkomitmen menjaga kontinuitas pasokan serta meningkatkan tata kelola usaha agar lebih profesional dan transparan guna mendukung ekspor berkelanjutan.
Komoditas gambir memiliki beragam manfaat dan diversifikasi olahan produk, mulai dari bahan campuran industri makanan dan minuman, bahan baku industri kesehatan dan farmasi, hingga bahan baku industri kosmetik seperti produk antipenuaan dan antioksidan.
Pemerintah mencatat Indonesia merupakan pemasok sekitar 80 persen komoditas gambir di pasar dunia. Selain India dan Pakistan, pasar ekspor gambir Indonesia juga mencakup Jepang, Filipina, Bangladesh, dan Malaysia.
Baca juga: Kementan-BUMN bahas rencana hilirisasi gambir asal Sumbar
Baca juga: Gubernur: Pemerintah segera bangun pabrik pengolahan gambir di Sumbar
Baca juga: PTPN siap hilirisasi gambir sesuai arah kebijakan Presiden Prabowo
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































