Kisah haru Lia Maharani saat pertama pakai seragam baru Sekolah Rakyat

2 days ago 3
Saat SMP, saya sakit, enggak bisa membelikan seragam sekolah. Terus dikasih sama tetangga saya. Ada tiga orang yang saya minta itu. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran

Jakarta (ANTARA) - Membelikan seragam sekolah baru untuk anak menjadi momen biasa bagi sebagian orang tua murid. Namun, tidak bagi Titin Lestari, keterbatasan ekonomi membuatnya hanya mampu memberikan seragam bekas kepada putrinya, Lia Maharani.

Hal itu berlaku sejak Lia masuk SD hingga jenjang SMP. Namun semua berubah sejak negara hadir lewat Sekolah Rakyat. Kini Lia bisa merasakan memiliki seragam baru, berkat program pendidikan gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Raut wajah bahagia tak mampu disembunyikan Titin Lestari saat melihat putrinya mengenakan seragam sekolah baru untuk pertama kalinya di Sekolah Rakyat. Keterbatasan ekonomi selama ini membuatnya tidak pernah mampu membeli seragam baru, sehingga Lia hanya mengandalkan seragam bekas pemberian tetangga.

"(Waktu) SD itu, saya dikasih sama tetangga saya. Saat SMP, saya sakit, enggak bisa membelikan seragam sekolah. Terus dikasih sama tetangga saya. Ada tiga orang yang saya minta itu. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran," kata Titin saat berdialog dengan Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf dalam Open House dan MPLS di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu.

Perempuan asal Kelurahan Combongan, Kabupaten Sukoharjo ini, setiap hari membuat dan berjualan kerupuk bawang dengan penghasilan bersih per hari Rp46 ribu, sementara suaminya, Misju, bekerja sebagai buruh tani serabutan. Penghasilan keluarga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Gus Ipul tinjau Taruna Bhakti Nusantara di Sekolah Rakyat Gresik

"Saya senang, bangga anak saya nanti bisa mendapatkan seragam baru, Pak, dari sini (Sekolah Rakyat). Untuk anakku, semangat ya, Nduk. Jangan pernah menyerah, masa depan ada di depan mata, lihatlah orang tuamu," kata Titin terharu seraya dipeluk oleh Lia.

Mendengarkan cerita Titin, Mensos Saifullah Yusuf dan peserta yang hadir tak kuasa menahan haru, bahkan sebagian menitikkan air mata. Sekolah Rakyat memberikan kesempatan, harapan, dan bahkan kebahagiaan bagi banyak keluarga seperti Titin.

Gus Ipul, sapaan Mensos Saifullah Yusuf, berharap Sekolah Rakyat menjadi pengungkit sosial agar seluruh anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan gratis yang berkualitas.

"Ini adalah persembahan Bapak Presiden Prabowo, kepada keluarga-keluarga yang secara sosial ekonomi berada di paling bawah," kata Gus Ipul.

Dalam arahannya, Gus Ipul menjelaskan siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang berada pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, melainkan melalui penjangkauan.

Baca juga: Kemensos jadikan Sekolah Rakyat Kendari upaya putus rantai kemiskinan

"Keluarga bapak-ibu sekalian dijangkau berbasis data, dilihat kondisi objektifnya, kalau memang memenuhi syarat langsung bisa diterima di Sekolah Rakyat, setelah ditetapkan oleh kepala daerah, bupati, walikota, atau gubernur," katanya.

Selain itu Sekolah Rakyat tidak melakukan tes akademik kepada calon siswa, melainkan dilakukan pemetaan minat dan bakat melalui DNA talent mapping. Siapapun yang memenuhi kriteria bisa masuk ke Sekolah Rakyat.

"Maka itu kalau ada anaknya sekarang yang mau masuk menjadi siswa Sekolah Rakyat tidak bisa membaca, jangan khawatir sudah banyak contohnya siswa-siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya kelas 1 SMA tidak bisa membaca, tapi sekarang sudah berprestasi," kata Gus Ipul.

Menutup dialog dengan orang tua siswa, Titin dan Lia menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi. Mereka berduet melantunkan nada merdu disambut riuh tepuk tangan dari para undangan yang hadir.

Turut hadir dalam kegiatan ini Wamensos Agus Jabo Priyono, Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Kepala Dinsos Provinsi Jawa Tengah Imam Maskur, Jajaran Forkopimda Kabupaten Sukoharjo, dan pejabat terkait lainnya.

Baca juga: Pembukaan MPLS, orang tua siswa terharu anaknya masuk Sekolah Rakyat

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |