Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) sebagai rumah besar kiai-santri penyejuk bangsa, pendamai dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan.
Khofifah menyampaikan hal itu saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan peresmian Kantor Pusat JKSN di Surabaya.
"Ini luar biasa. Ini adalah jaringan santri dan kiai Indonesia. Tentu kita berharap bahwa ini akan jadi rumah besar yang menyejukkan. Karena para ulama senantiasa menjadi penyejuk, pendamai, dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan," katanya dalam keterangan diterima di Surabaya, Minggu.
Dia mengapresiasi saat pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pergunu serta berharap peresmian Kantor Pusat JKSN membawa manfaat besar bagi seluruh jaringan kiai dan santri di Indonesia.
"Di JKSN kita bersama tentu punya komitmen bagaimana ini menjadi rumah besar yang menyejukkan untuk semua pihak. Bagaimana dari sisi pikiran, kita punya global mindset. Tetapi dari sisi kebijakan, antara local wisdom dan global mindset," ujarnya.
Ia menegaskan cita-cita sebagai penyejuk bangsa perlu dimulai dari komitmen setiap anggota, baik santri, kiai, maupun ulama untuk menjadikan Islam rahmatan lil 'alamin.
"Ini mestinya terbangun pada posisi karakter akhlakul karimah. Insya Allah, ini akan menjadi bagian kekuatan. Di mana saja, karakter ini akan menjadi pilar penguat negara," ujar Khofifah.
Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengingatkan peran heroik santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan, termasuk resolusi jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
"Inilah yang kita rayakan setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semuanya bermula di Jawa Timur. Oleh karena itu, nyala api itu sampai redup. Harusnya semakin membesar agar kita bisa mengabdi sepenuhnya kepada bangsa ini," ujarnya.
Menurut dia, matahari saja munculnya di timur. Jadi apa salahnya kalau mulai membangun pulau Jawa mulainya dari Jawa Timur.
"Kemudian baru kita bangun Indonesia. Ini yang sebenarnya harus kita pahami," lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum JKSN sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan pesantren memiliki posisi strategis dalam sejarah pendidikan dan perjuangan bangsa.
"Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memberikan layanan pendidikannya pertama di Indonesia. Di saat-saat belum ada layanan pendidikan, pondok pesantren telah menjalankan pendidikan, dan pondok-pondok pesantren menjadi sentral perjuangan melawan penjajah di mana-mana," ujarnya.
Ia menambahkan lahirnya organisasi ulama berakar dari komitmen menjaga persatuan dan nilai Islam moderat demi terwujudnya kesejahteraan serta tegaknya keadilan di Indonesia.
"Tujuannya jelas dua, yaitu memelihara dan mengembangkan di Indonesia ini faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Indonesia merdeka. Maka, kita harus mentransformasi orientasi kita dari Indonesia merdeka menjadi keberhasilan cita-cita luhur kemerdekaan. Yaitu terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan," tuturnya.
Baca juga: Ketua Jaringan Kiai Santri istighosah doakan krisis kepimpinan PBNU
Baca juga: JKSN kecam tayangan televisi yang dinilai menyudutkan pesantren
Baca juga: Pergunu harap santri diikutkan dalam pasukan yang dikirim ke Palestina
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































