Jakarta (ANTARA) - Mahasiswa lulusan Universitas Brawijaya (Unbraw) Rafiq Usdiqa Maulana dibimbing untuk mempelajari teknologi sel punca (stem cell) yang mutakhir di Universitas Kyoto.
Teknologi itu dinamai Induced Pluripotent Stem Cells (sel iPS) oleh penemunya, Profesor Shinya Yamanaka. Yamanaka mendapatkan Penghargaan Nobel (Nobel Prize) pada 2012 atas penemuan besar itu.
"Hadiah Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran tahun 2012 dianugerahkan bersama kepada Sir John B. Gurdon dan Shinya Yamanaka 'atas penemuan bahwa sel-sel dewasa dapat diprogram ulang untuk menjadi multifungsi (pluripoten)'," demikian keterangan The Nobel Prize yang dilansir dari nobelprize.org, Minggu.
Baca juga: Direktur SCCR: Teknologi sel punca bisa bantu tunda penuaan
Universitas Kyoto memiliki pusat penelitian sel iPS di Department of Clinical Application yang dinamakan Center for iPS Cell Research and Application (CiRA).
Dilansir dari laman CiRA, Sel iPS adalah sel tubuh biasa yang diprogram ulang sehingga fleksibel, bisa menjalankan banyak tugas sesuai kebutuhan medis.
Sel tersebut dapat berubah menjadi sel jantung (sel otot jantung). Sel tersebut juga bisa berubah menjadi sel saraf (sel otak) atau sel kulit.
Baca juga: Indonesia siap jadi pioner layanan sel punca
Lewat penelitian untuk mendapatkan sel punca tersebut, kini eksperimen tidak memerlukan lagi embrio manusia.
Dokter bisa membuat sel punca pluripoten terinduksi dari tubuh pasien.
Mahasiswa dan peneliti menggunakan sel iPS untuk berbagai tujuan mulia seperti mengganti jaringan tubuh yang rusak akibat penyakit kronis, menguji coba efektivitas obat baru pada sel iPS sebelum memberikannya kepada manusia, hingga mempelajari perkembangan penyakit genetik melalui replikasi sel di laboratorium.
Baca juga: Pemuda berperan tingkatkan kesehatan bangsa melalui terapi sel punca
Kerja sama ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa Unbraw asal Solok, Sumatera Barat untuk menguasai teknologi masa depan di bawah bimbingan Prof. Megumu K. Saito dari CiRA.
Studi akan dimulai Rafiq pada April 2026 sebagai Research Student, dan melanjutkan Master's Program di Graduate School of Medicine and Faculty of Medicine. Studi Rafiq ditargetkan selesai pada April 2029 dengan meraih gelar Master of Medical Science (M.Med.Sci).
Baca juga: Indonesia benahi regulasi guna perluas akses terapi sel punca
Studi Rafiq di Jepang dibiayai beasiswa Ajinomoto Scholarship yang mencakup tunjangan hidup sebesar 150.000 yen per bulan untuk Research Student (selama 1 tahun) dan 180.000 yen per bulan untuk Master Course Student (selama dua tahun), biaya kuliah penuh (tuition fees), biaya administrasi dan ujian, serta tiket pesawat ke Jepang.
“Saya merasa sangat bersyukur dan terhormat telah terpilih sebagai penerima beasiswa Ajinomoto untuk tahun ajaran 2026," kata Rafiq dalam siaran pers perusahaan tersebut yang diterima di Jakarta, Sabtu.
"Proses seleksi yang saya jalani menjadi pengalaman berharga yang mengajarkan pentingnya persiapan matang, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga visi jangka panjang saya,” imbuhnya.
Baca juga: Kimia Farma manfaatkan teknologi Stem Cell untuk penyakit degeneratif
Bagi mereka yang ingin mewujudkan impian meraih pendidikan tinggi di Jepang, pendaftaran Ajinomoto Scholarship dibuka mulai 5 Januari hingga 5 Maret 2026 dan seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya, menurut informasi yang dapat diakses melalui situs www.ajinomoto.co.id/id/beasiswa.
Program beasiswa itu terbuka bagi mahasiswa-mahasiswi berprestasi yang memiliki minat di bidang Gizi, Pangan, Pertanian, Teknik, dan Sains, serta memiliki komitmen kuat untuk terus belajar dan berkembang.
Baca juga: Prodia akuisisi ProSTEM, perkuat terapi regeneratif berbasis sel punca
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































