Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok dan harga daging ayam ras di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) dalam kondisi aman dan terkendali pada awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda memastikan negara hadir melindungi konsumen melalui pemantauan harga dan pasokan komoditas itu secara langsung.
"Memasuki bulan suci Ramadhan, konsumen di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, dipastikan membeli ayam dengan harga stabil. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan harga ayam relatif terkendali, meski sempat muncul pemberitaan adanya kenaikan harga," kata Agung dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan telah berkoordinasi dengan jajaran di daerah dalam melakukan pengawasan harga komoditas tersebut sehingga masyarakat dapat membeli dengan harga terjangkau sesuai yang ditetapkan pemerintah.
"Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami memastikan masyarakat memperoleh produk yang aman, sehat, utuh, dan halal dengan harga terjangkau, sementara pedagang tetap mendapatkan margin yang wajar," ujar Agung.
Lebih lanjut dia menegaskan kebijakan pemerintah diarahkan agar konsumen tetap memperoleh pangan dengan harga terjangkau tanpa merugikan pelaku usaha.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Polewali Mandar Fitriani menegaskan kenaikan yang terjadi masih dalam batas wajar.
“Ada kenaikan tapi masih wajar dan di bawah HAP yang ditetapkan pemerintah,” katanya.
Ia mengatakan pemantauan langsung telah dilakukan bersama lintas instansi. Pihaknya turun langsung ke Pasar Sentral Pekkabata bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta anggota Bareskrim Polri.
Fitriani menjelaskan, harga ayam hidup saat ini sekitar Rp70.000 per ekor dengan berat rata-rata 2,5 kilogram.
"Jadi per kilogramnya hanya sekitar Rp28.000. Harga tersebut tidak jauh dari HAP (harga acuan pembelian) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp25.000 untuk per kilogram ayam hidup ditingkat produsen atau peternak,” kata Fitriani menjelaskan.
Artinya, kata dia, jika dihitung secara riil, harga di tingkat konsumen masih berada dalam rentang aman dan tetap terjangkau bagi masyarakat. Dari sisi pasokan, konsumen juga tidak perlu khawatir karena ketersediaan ayam cukup bahkan cenderung berlimpah.
"Pasokan ayam di Polewali Mandar cukup aman. Bahkan saat ini menjelang Ramadan para pedagang menyetok ayam dua kali lipat dari biasanya,” katanya menjelaskan.
Ia mengatakan kenaikan harga menjelang Ramadhan merupakan fenomena musiman akibat tingginya permintaan dan tradisi syukuran dengan pemotongan ayam, namun dua hingga tiga hari kemudian harga kembali stabil sebelum naik lagi jelang Lebaran.
"Tapi setelah dua sampai tiga hari harga akan stabil kembali. Nanti menjelang Lebaran baru ada kenaikan lagi,” ujar dia menambahkan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat Nur Kadar menyampaikan kondisi harga komoditas peternakan di wilayah tersebut masih relatif terkendali.
Ia menjelaskan harga ayam di tingkat peternak berkisar Rp23.000–Rp25.000 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen berada pada rentang Rp70.000–Rp75.000 untuk bobot 2,5 kilogram dan sekitar Rp80.000 untuk bobot 3 kilogram.
Selain itu, ia memastikan ketersediaan protein hewani di Sulawesi Barat dalam kondisi aman, dengan stok ayam dan telur yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Untuk Sulawesi Barat, stok ayam dan telur aman, tercukupi,” katanya menegaskan.
Sebelumnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk menjual komoditas di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah.
"Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga ini pun stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main," kata Amran.
Berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, sembilan komoditas strategis tercatat dalam posisi surplus produksi. Kesembilan komoditas tersebut meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Kementerian Pertanian menegaskan pemantauan harga akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha hingga Idul Fitri guna memastikan distribusi lancar, harga tetap stabil, dan masyarakat terus mendapatkan pangan protein hewani yang aman serta terjangkau.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.















































