Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan sebanyak 1,5 juta perempuan Indonesia mengikuti skrining kanker serviks dengan metode HPV DNA pada 2026, sebagai upaya eliminasi penyakit tidak menular tersebut.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Selasa, mengatakan untuk mengejar target tersebut pihaknya mengupayakan agar mulai tahun 2026 paket pengecekan medis (medical check-up) di rumah sakit juga dapat menyertakan tes HPV DNA juga, karena selama ini umumnya hanya memanfaatkan metode pap smear.
"Nah jadi memang perjalanan dari HPV DNA itu masih baru banget. Jadi saya bisa memahami. Tapi kalau di tahun 2026 ini masih banyak rumah sakit yang medical check-up-nya itu hanya pap smear sangat disayangkan," katanya.
Dia menyebutkan hal itu karena pemerintah melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) memberikan fasilitas HPV DNA, dimana para perempuan dapat memilih untuk memakai swab guna pengecekan secara mandiri.
Baca juga: Kemenkes: 2025, 666 ribu orang skrining HPV DNA cegah kanker serviks
Nadia menilai pengambilan sampel secara mandiri di RS lebih mudah, karena ada petugas kesehatan yang dapat menjelaskan prosedurnya. Selain lebih akurat, metode sampling mandiri HPV DNA, kata dia, juga dapat mengatasi tantangan lain yakni rasa tidak nyaman saat pemeriksaan.
"Yang bikin sering kali orang tidak mau periksa, perempuan itu karena dia harus buka celana, naik ke meja, meja pemeriksaan. Kemudian diambil sampelnya," kata Nadia.
Dia mengatakan sepanjang 2025 sebanyak sekitar 666 ribu perempuan mengikuti tes HPV DNA. Dari cakupan itu sebanyak 4 persen atau sekitar 23 ribu menunjukkan hasil positif.
Dalam kesempatan yang sama, Country Director Jhpiego Indonesia Maryjane Lacoste mengatakan HPV DNA menawarkan akurasi tes yang tinggi, dengan tingkat invalid hanya sekitar satu persen, seperti yang diverifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dia menilai prosedurnya pun cukup mudah dan bisa diterima oleh para perempuan, serta hasilnya juga lebih konsisten saat dibaca di laboratorium.
Baca juga: Minim skrining, kanker serviks masih mengancam perempuan Indonesia
"Jadi bagi negara seperti Indonesia, yang memiliki kawasan luar biasa yang besar, dengan konsentrasi besar perempuan yang terpilih untuk tes, self-sampling terlihat sebuah cara yang sangat efektif dan efisien untuk mendapatkan tes tersebut dalam waktu yang relatif pendek," katanya.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) Tofan Widya Utami menyebutkan tidak perlu takut jika skrining kanker serviks menunjukkan hasil positif, justru perlu disyukuri karena artinya cepat ketahuan dan bisa segera ditangani.
Tofan mengatakan jenis Human papillomavirus (HPV) yang menjadi perhatian di Indonesia adalah tipe 16, 18, dan 52.
"16, 18 itu mendominasi. 70 persen minimal sebabnya adalah tipe 16 dan 18, dimana tipe 16 itu kira-kira 56,8 persen, sedangkan tipe 18 itu sekitar 16 persen. Sedangkan tipe 52 di Indonesia itu nomor 3 untuk kanker serviks. Itu sekitar lima persen saja memang, tapi itu ternyata di populasi umum 52 itu mendominasi," katanya.
Baca juga: Sampling mandiri tes HPV DNA dapat percepat eliminasi kanker serviks
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































