Kemenkes: Puasa yang benar bantu hadapi tantangan mental di era modern

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan puasa yang dilakukan dengan benar membangun harmoni antara tubuh, pikiran dan jiwa, sehingga puasa memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan mental, dan semakin relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi di Jakarta, Rabu, mengatakan para ahli merekomendasikan beberapa langkah untuk menerapkan puasa secara optimal demi mendukung kesehatan mental, seperti menetapkan tujuan spiritual, berfokus pada mindfulness, menjaga pola hidup sehat, dan berbagi pengalaman dengan komunitas.

Imran mengatakan Ramadhan sering kali menjadi momen refleksi dan perbaikan diri, tetapi juga dapat memengaruhi tren gangguan jiwa.

Baca juga: Hal-hal yang perlu diketahui tentang puasa intermiten

Menurut data dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), angka gangguan mental di Indonesia, seperti kecemasan dan depresi, tetap tinggi, dengan sekitar 1 dari 20 remaja terdiagnosis memiliki gangguan mental.

"Namun, selama Ramadhan, banyak individu melaporkan penurunan gejala stres dan kecemasan berkat praktik puasa dan aktivitas spiritual," ujarnya.

Kemudian, katanya, sebuah penelitian yang dilakukan di MAN 2 Kota Cilegon pada 2019 menunjukkan bahwa praktik puasa memiliki kontribusi sebesar 98,01 persen terhadap peningkatan kesehatan mental siswa. Penelitian ini menyoroti bagaimana pengendalian diri dan peningkatan spiritualitas yang terjadi selama puasa membantu siswa mengembangkan regulasi emosi yang lebih baik, sehingga meningkatkan kebahagiaan.

"Studi Universitas Sirjan Azad menemukan bahwa individu yang berpuasa menunjukkan pengendalian diri yang lebih kuat, yang berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Peneliti menemukan bahwa pengendalian diri selama puasa ini membantu individu untuk lebih tenang dalam menghadapi tekanan hidup," katanya.

Baca juga: Puasa Daud: Niat, keutamaan, hingga manfaatnya

Mengutip seorang peneliti, Prof Dr Siti Nur Azizah, Imran menjelaskan bahwa puasa dapat menjadi terapi jiwa yang efektif, karena puasa menjaga hormon kortisol yang berkaitan dengan respons tubuh saat stres dan menghasilkan hormon endorfin, yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan.

Menurutnya, Ramadhan adalah waktu yang ideal untuk membersihkan “sampah pikiran” dan mendekatkan diri kepada Tuhan, yang dapat mendatangkan ketenangan jiwa.

Penelitian dari National Library of Medicine (2024) menunjukkan bahwa puasa membantu mengurangi produksi hormon stres seperti kortisol, yang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks.

Selain itu, aktivitas spiritual selama puasa, seperti doa dan zikir, berfungsi sebagai bentuk mindfulness yang membantu individu tetap fokus pada momen saat ini. Praktik ini terbukti mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa damai.

Selain itu, puasa memiliki dampak signifikan pada metabolisme otak, yang berkontribusi pada peningkatan fungsi kognitif dan kesehatan mental.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Medcom.id, puasa meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang mendukung pertumbuhan dan regenerasi sel otak dan melindungi otak dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer," ujarnya.

Baca juga: Manfaat mengonsumsi yogurt untuk takjil berbuka Puasa

Baca juga: Kemenkes jelaskan manfaat puasa untuk kesehatan mental

Puasa memicu proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel-sel rusak, termasuk di otak. Proses ini membantu memperbaiki jaringan otak yang rusak, sehingga meningkatkan ketajaman berpikir dan suasana hati.

Peningkatan hormon kebahagiaan seperti serotonin dan endorfin selama puasa juga berkontribusi pada suasana hati yang lebih positif. Hal ini mirip dengan efek yang dirasakan setelah berolahraga, dimana tubuh merasa lebih tenang dan bahagia.

Namun, Imran mengingatkan bahwa bagi sebagian individu, terutama mereka yang memiliki gangguan mental berat seperti skizofrenia, ramadhan dapat menjadi tantangan. Dukungan keluarga dan komunitas sangat penting untuk membantu mereka menjalani bulan suci ini dengan baik.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |