Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel) membangun Jembatan Antar Kampung (JAK) yang menghubungkan wilayah Kebayoran Lama Selatan dan Pondok Pinang, Kebayoran Lama.
"Jembatan ini sudah lama diimpikan warga. Mereka menantikan kapan pembangunan atau renovasinya dapat direalisasikan. Alhamdulillah, pada hari ini, hal tersebut dapat terwujud," kata Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar di Jakarta, Rabu.
Dia pun mengapresiasi seluruh pihak, mulai dari warga, unsur teknis dan anggota dewan yang telah bersama-sama menyuarakan aspirasi sehingga jembatan tersebut dapat terealisasi dengan baik.
Dia berpesan kepada warga agar menjaga jembatan yang dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) itu karena bernilai manfaat yang besar bagi masyarakat.
"Jika pemerintah sudah memberikan fasilitas yang baik, tolong dijaga dan dirawat dengan baik. Jangan sampai dalam waktu singkat, kondisi jembatan menjadi tidak terawat," ujar Anwar.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan Rifki Rismal menjelaskan pembangunan jembatan dengan bentangan 20 meter dan lebar 1,8 meter itu merupakan hasil dari usulan warga melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
"Proses pembangunannya sendiri memakan waktu sekitar tiga bulan, namun proses administrasi dan penganggarannya memerlukan waktu satu tahun," ucap Rifki.
Dia menuturkan pembangunan jembatan yang mengusung konsep ornamen khas Betawi itu juga menyesuaikan konstruksi jembatan, kontur lahan serta bentuk aliran kali di lokasi tersebut.
Baca juga: Bina Marga Jaksel bangun 10 jembatan antarkampung pada 2025
Dari segi keamanan, kata dia, jembatan tersebut memiliki kapasitas beban aman hingga 40 orang dalam waktu yang bersamaan, sementara dari segi pencahayaan, dipasang lampu tembak di dua titik.
"Kami memilih untuk tidak memasang lampu langsung di badan jembatan guna menghindari adanya tarikan kabel yang berisiko mencelakakan warga. Dengan penggunaan lampu tembak, aspek estetika dan keamanan tetap terjaga," tutur Rifki.
Lebih lanjut, dia mengimbau warga di kedua wilayah tersebut agar bersama-sama menjaga serta memelihara jembatan itu sehingga tetap awet dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
"Kami dari pihak pemerintah juga akan tetap melakukan pemeliharaan secara rutin terhadap fasilitas ini," ungkap Rifki.
Pada kesempatan yang sama, Ketua RW 10 Kebayoran Lama Selatan Waldi Abas mengaku senang karena jembatan yang diidam-idamkan warga itu akhirnya terealisasi.
Sebelumnya, kata dia, jembatan penghubung itu berstruktur bambu yang diikat tali sehingga sangat membahayakan bagi warga.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah merealisasikan jembatan ini. Kami dari kedua wilayah sudah komitmen akan menjaga ini dengan baik," pungkas Waldi.
JAK tersebut diberi nama Jembatan JIUNG karena menjadi penghubung antara Jalan Jati Indah dan Jalan Perhubungan (JIUNG).
Baca juga: Jembatan Harapan Baru jadi simbol silaturahmi antarkampung
Baca juga: JAK Gandaria jadi percontohan jembatan angkat di Jakarta
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































