Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya budaya membaca buku sebagai salah satu instrumen medis ringan untuk menjaga kesehatan jiwa masyarakat, terutama dalam memperkuat ketahanan mental kelompok rentan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr. Imran Pambudi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa peringatan Hari Buku Sedunia setiap 23 April merupakan momentum tepat untuk mengampanyekan literasi sebagai intervensi kesehatan untuk mengurangi kecemasan.
"Membaca bukan sekadar aktivitas budaya, tetapi menawarkan jeda tenang yang mampu menurunkan ketegangan saraf dan menata ulang pikiran di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern," kata dia.
Kemenkes melaporkan pada banyak kajian ditemukan aktivitas membaca secara konsisten selama 20 hingga 30 menit setiap hari dapat membantu otak melatih daya ingat dan kognitif. Dengan begitu hal ini menjadi krusial dalam mencegah penurunan fungsi mental seiring bertambahnya usia.
Baca juga: Badan Bahasa salurkan 4.000 eksemplar bahan bacaan anak di Aceh
Menurut dia, sebagaimana buku fiksi yang berperan dalam melatih empati melalui imajinasi, sementara buku nonfiksi memberikan strategi praktis bagi individu untuk menghadapi tantangan hidup. Jadi keduanya membantu seseorang merespons situasi sulit dengan lebih tenang.
Di sisi sosial, Imran mendorong pengembangan klub buku di tingkat komunitas sebagai strategi pencegahan isolasi sosial, sekaligus untuk mengurangi rasa kesepian yang sering menjadi pemicu masalah kesehatan jiwa pada kelompok rentan.
"Literasi yang inklusif, seperti penyediaan buku di ruang publik dan sesi baca lintas generasi, dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan masyarakat yang sederhana namun berdampak besar," kata dia, seraya menyarankan masyarakat untuk mulai membatasi penggunaan layar ponsel sebelum tidur dan beralih ke buku cetak guna meningkatkan kualitas tidur dan memberikan waktu istirahat yang berkualitas bagi otak.
Dalam keterangan itu, Imran juga menyampaikan harapan agar buku secara nasional dapat dipandang sebagai alat transformasi pribadi untuk membangun batin yang lebih sehat dan komunitas yang lebih erat seiring dengan ditunjuknya Kota Rabat di Maroko sebagai World Book Capital oleh UNESCO pada peringatan Hari Buku Sedunia 2026 ini. Kota Rabat sendiri selama ini dikenal sebagai rumah bagi penerbit-pameran buku internasional, dan bahkan akses literasi terbesar ketiga di Benua Afrika.
Baca juga: Dubes MIsrawi: buku jadi jembatan penting bilateral indonesia-Tunisia
Baca juga: Indonesia hadirkan 1.000 buku di pameran internasional Tunisia
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































