Aceh Tenggara (ANTARA) - Warga Desa Bener Berpapah, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, kini mendulang emas untuk menambah penghasilan setelah mata pencarian dari kebun rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.
Salah satu warga yang ikut menambang, Rukiah (45), mengatakan emas hasil pendulangan dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dijual ke tauke yang datang ke desanya atau ke pasar pagi di Kutacane, ibu kota kabupaten.
“Sikit cuma. Kemarin itu satu gram satu mili (miligram). Ada duitnya Rp3,1 juta. Jual ke pajak (pasar) pagi,” ucap Rukiah saat ditemui ANTARA di Desa Bener Berpapah, Selasa.
Kegiatan mendulang di tepian sungai baru dimulai sejak satu bulan terakhir setelah bencana hidrometeorologi melanda desa itu. Sebelumnya, tidak ada tambang emas di sekitar desa.
“Habis banjir inilah kami mendulang emas di sini. Waktu itu enggak ada di sini. Setelah banjir ini, rumah pun habis, baru ada (emasnya). Kadang itu rezeki dikasih Tuhan, kan?” ucapnya.
Dia bercerita kandungan emas di sungai pertama kali diketahui oleh adiknya. Setelah itu, Rukiah sekeluarga mulai mendulang yang kemudian juga diikuti oleh warga lain.
Baca juga: Aceh alami deflasi 0,15 persen dua bulan setelah bencana
Pendulangan dilakukan karena mata pencarian pascabencana terganggu. Rukiah yang merupakan petani kakao itu merasa terbantu berkat hasil mendulang karena kebunnya tidak lagi berbuah setelah bencana dua bulan lalu.
“Membantu sekali. Bisa anak sekolah. Macam-macam, lah, dari sini. Dibayar air, lampu; untuk belanja sehari-hari,” tuturnya.
Pendulangan dimulai sejak pukul 08.00 pagi dan berlanjut hingga petang setelah jeda istirahat dan salat pada siang harinya. Sebelum emas dicuci di atas dulang, pasir terlebih dahulu diambil dari sungai dan disaring menggunakan alat yang dibuat sendiri.
“Habis diambil dari situ pasirnya, cuci di dulang. Baru nanti bersihkan, bawa pulang,” katanya.
Menurut Rukiah, pendulangan ini sempat dilarang pihak keamanan karena ditakutkan merusak alam. Namun, ia menyebut kegiatan yang dilakukan bersama warga Desa Bener Berpapah itu tidak seperti yang dikhawatirkan.
“Ngapain rusak? Enggak kita bawa, kan. Tanahnya di sini, semua, pasirnya. Enggak ada kita bawa, enggak ada apa pun. Kita pun usaha, cari makan untuk anak, untuk anak sekolah, semuanyalah dari sini,” ujarnya.
Baca juga: Akses pulih, petani gembira harga minyak serai kembali stabil
Baca juga: Masuk fase pemulihan, pemerintah percepat huntara untuk warga di Aceh
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































